Bukan hanya sekedar menyinggung permasalahan siapa yang terpilih menjadi kepala daerah.
"Saya pikir pemerintah sudah mengatakan itu. Tetapi bagi saya yang namanya tahun politik jangan cuman ngomong siapa yang gubernur, walikota, anggota DPR jadi pemimpin. Negara akan semakin beragam apabila negaranya menjalankan fungsi yang paling dasar, tetapi bukan hanya negara, bisnis juga harus, masyarakat juga," ujarnya, Sabtu (6/1).
Suharyo pun mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk selalu mengingat tonggak-tonggak sejarah dalam menghadapi tantangan-tantangan yang saat ini tengah menimpa khususnya permasalahan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
"Mari merawat ingatan kita bersama, ada Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, Proklamasi, adalah tonggak-tonggak sejarah yang menunjukan kita ingin menjadi satu bangsa, satu Tanah Air. Kalau itu dirawat pasti kita bisa menghadapi tantangan apapun. Moga-moga dengan merawat ingatan bersama kita bisa maju menjadi bangsa yang dicita-citakan di dalam UUD 1945," tutupnya.
Keuskupan Jakarta tidak berpolitik praktis. Keuskupan sebagai institusi agama ingin tetap pada koridor keagamaan. Keuskupan Jakarta berpendapat keadaban publik itu ditopang tiga pilar: negara, bisnis dan rakyat.
Keuskupan Agung DKI Jakarta (KAJ) menggelar acara dialog kebangsaan dalam rangka membangun persatuan bangsa dengan mengangkat tema "Amalkan Pancasila: Kita Bhineka, Kita Indonesia" di Aula Gereja St. Perawan Maria Di Angkat Ke Surga Katedral. Jalan Katedral, Jakarta Pusat.
[rus]
BERITA TERKAIT: