"Gerakan ini sangat bagus," jelas salah seorang pelapor kasus penistaan agama, Pedri Kasman, siang tadi.
Pasalnya, salah satu kekuatan umat Islam itu adalah jika shalat subuh berjama'ah di masjid. Subuh adalah waktu dimulainya aktifitas harian. Jika subuh-subuh sudah ke masjid, produktifitas umat akan meningkat. Daya juang dan daya saingnya akan sangat bagus.
"Gerakan ini harus didukung. Inilah revolusi mental yang sesungguhnya," ucap Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah ini.
Menurutnya, tanpa disadari dengan gerakan-gerakan yang masif dilakukan umat Islam belakangan ini, mulai aksi 1410, 411, 212 dan terakhir hari ini, aksi 1212 sebenarnya proses revolusi itu sedang terjadi di tubuh umat.
"Inilah revolusi yang sangat mendasar. Revolusi yang datang dari hati, revolusi ilahiah. Revolusi yang diilhami pembelaan terhadap hak asasi yang paling dasar, yaitu agama," ulasnya.
Karena itu pemerintah dan penegak hukum harus betul-betu melihat ini dengan hati pula. Dengan kesadaran penuh akan tugas mereka sesungguhnya untuk malayani rakyat, menghadirkan keadilan sosial bagi semua.
"Keadilan adalah kunci kebangkitan bangsa ini. Itulah yang menjadi tuntutan awal dari semua gerakan di atas. Tanpa keadilan, yakinlah bangsa ini akan selalu terpuruk," ungkap Pedri.
Karena, sambung Pedri, revolusi mental yang digulirkan Presiden Jokowi belum tampak sama sekali di pemerintahannya. Bahkan pada aspek keadilan dan penegakan hukum revolusi mental itu seperti memakan tuannya sendiri.
Justru rakyat melihat pemerintah sedang mempermainkan rasa keadilan itu. Negara ini seperti bukan lagi negara hukum, tapi sudah jadi negara kekuasaan. Kekuasan politik dan kekuasaan modal (uang).
"Justru umatlah yang memulai revolusi mental itu saat ini. Jadi jangan heran jika suara-suara revolusi itu akan tetap menggema sepanjang keadilan tidak tegak di negeri ini. Revolusi ilahiah atau revolusi apiritual takkan pernah terkalahkan. Yakinlah," demikian Pedri Kasman.
[zul]
BERITA TERKAIT: