Kapolres Sijunjung AKBP Dodi Pribadi membenarkan peristiwa penggerebekan tersebut. Diceritakan Dodi, penggerebekan ratusan warga ini dilakukan pada Jumat (18/11/16) sekira pukul 20.45 WIB. Lebih kurang 200 warga menggerebek keduanya di rumah dinas suami DY, Kompleks Perumahan Pemda Simpang Pangeran Muaro. Suami DY tengah bertugas mengantar atlet ke Padang.
"(Suami DY) sedang berada di Padang mengantar atlet. Penggerebekan dipimpin oleh saudara Rustam, garim (merbot, red) Masjid Nurul Hidayah," kata Dodi.
Rustam (39), tokoh pemuda Jorong Muaro Gambok, Nagari Muaro, Sijunjung menyatakan, penggerebekan dilakukan karena warga sudah memuncak kejengkelannya. Saolnya, MR kerap main ke rumah DY di Kompleks Pemda Sijunjung, sewaktu suaminya tak ada.
"Ketika digrebek, MR bersembunyi di balik daun pintu. Dia hanya memakai celana kolor yang terpasang di sebelah kaki. Celananya sudah terbuka. Baju juga. Sedangkan sang wanita duduk di atas kasur," ungkap Rustam.
MR lalu digiring ke Kantor Wali Nagari untuk diproses secara hukum. Namun karena banyaknya warga serta khawatir MR bakal jadi sasaran amukan, dia dipindahkan ke Balai Adat Nagari Muaro. Di Balai Nagari, MR mengakui kesalahannya.
"Sekitar pukul 22.00 WIB kedua pelaku baru bisa dievakuasi dari TKP menuju kantor Walinagari Muaro dan disidangkan secara adat. Massa dari TKP bergeser ke kantor Wali Nagari. Kondisi massa tidak bertambah dan tetap kondusif," tuturnya.
Tak beberapa lama, sidang adat langsung dilakukan. Biasa mimpin sidang, MR kali ini disidang oleh perangkat desa dan tokah adat, yaitu niniak mamak. Ratusan warga yang menggerebek MR nonton live sidang adat itu.
Sidang adat memutuskan tiga sanksi. Pertama, MR harus menyerahkan 100 sak semen kepada nagari atau kepada desa. Kedua MR didesak mundur dari jabatan Ketua DPRD. Ketiga, MR dan DY diusir dari kampung dan tidak boleh bertempat tinggal lagi di Nagari Muaro.
Polisi tidak memproses hukum kasus ini. Sebab, tidak ada laporan ke polisi dari pihak keluarga MR dan DY. "Itu kan delik aduan, dari keluarganya tidak ada yang melapor, ya kita tidak proses. Kedua pelaku telah dikembalikan pada pihak keluarga masing-masing," terang Dodi.
Sudah bisa ditebak, hampir seluruh netizen kaget. Banyak yang mengolok-olok dan mengecam perilaku Ketua DPRD ini. Kok bisa orang yang berperilaku bejat dan tidak bisa dicontoh ini jadi anggota dewan.
Pembaca Ryan Satbangers menuliskan komentarnya di link berita terkait. "Ondee mak sabana sero," tulis dia disambut Hulman Marasi. "Enak sebentar, susah seumur hidup." Pembaca Bowo Soeparno Parno menambahi. "Rancak bana."
Abdul Malik mengecam. "Sebegitunya ya, masyaallah, rendah betul mental seorang anggota dewan!" tulisnya marah disamber Elwahby. "Ketua DPRD nya dari partai GOLKAR, Pecat aja," pintanya.
Sedangkan akun Sembodro Brotojoyo mengapresiasi hukum adat yang masih lestari. "Bagus hukum adat bermartabat," sebutnya diamini Yohan. "Bagus sekali hukum adat dilestarikan.†Pembaca Reader Boy menimpali. "Benar bagus sekali dan memberi efek jera."
Yang lain menilai hukumannya kurang keras. "Irwan Dewanto misalnya. Ditambah hukuman lagi dua-duanya cemplungin kelaut!" tulisnya emosi.
Akun @kakarot17 menambahi. "Hukum adat lebih tegas dari pada hukum nasional. Tapi kenapa ga 2000 sak semen?" protesnya disamber @ hitler_tarigan. "Kenapa gak sekalian itu-nya disemen?" candanya.
Pembaca @athaaa juga menilai hukuman kurang berat. "Onde mande sanangnyo. Sanksi cuma diusir dari kampung. Bisuak-bisuak bini orang lain lagi yang diembat. Masukan buat pak polisi, kalau kasus kaya gini jangan nunggu laporan keluarga baru diproses donk. Ini kan udah kategori tindakan asusila. Proses hukum lah harusnya... aneh bgt sik!" tulisnya.
Sementara Kostinag menilai, mestinya hukum formal bisa diterapkan. "Bisa juga tuh lawan politiknya adukan ke mahakamah kehormatan," sebut dia.
Sedang pembaca berakun @antiklubberisik mengingatkan pejabat yang lainnya. "Ujian paling berat: Harta, tahta, wanita," sebut dia diamin Dewal Nasution. "Harto, tahto, wanito.... giloooo, Hahhahahaa," sebutnya.
Tak jauh berbeda, di jagad Twitter, akun @sidik1697 juga geram betul. "Memalukan. Sudah bejat, pecat!!!" pintanya dibenarkan oleh @ jemmyhendiko. "Malu-maluin daerah sendiri Anda, Pak." ***
BERITA TERKAIT: