Aksi 4 November Dinodai Tindakan Represif Aparat Kepolisian

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Sabtu, 05 November 2016, 10:25 WIB
Aksi 4 November Dinodai Tindakan Represif Aparat Kepolisian
Aksi 4 November/Net
rmol news logo . Aksi damai 4 November yang dipusatkan di depan Istana Negara Jakarta sempat diwarnai kericuhan. Adu fisik antara massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan aparat kepolisian tak terhindarkan.

Advokat yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sylviani Abdul Hamid meminta pertanggung jawaban Joko Widodo selaku Presiden yang tidak mau menerima utusan dari para peserta aksi.

"Kalau diterima dengan baik-baik, tidak akan terjadi adu fisik," kata Sylvi yang juga Direktur Eksekutif SNH Advocacy Center, Sabtu (5/11).

Sylvi yang berada di lokasi kejadian menceritakan, bahwa awal mula terjadinya bentrok fisik setelah pihak kepolisian menembakan gas air mata ke arah para peserta aksi.

"Sebelumnya memang ada gesekan, tapi telah selesai, tiba-tiba polisi menembakan gas air mata ke arah kami," kata Sylvi.

Tampak di lokasi banyak korban yang terkena gas air mata, termasuk KH. Bachtiar Nasir.

"Sedari awal sudah kami sampaikan aksi ini aksi damai, pemegang komando para alim ulama, kami akan melakukan klarifikasi atas malprosedur pihak kepolisian yang menembakan gas air mata ke peserta aksi," tegas Sylvi. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA