Deteksi Dini Kanker Paru Masih Jadi Tantangan di Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Selasa, 18 Agustus 2026, 16:31 WIB
Deteksi Dini Kanker Paru Masih Jadi Tantangan di Indonesia
Ketua Pokja Onkologi Toraks PDPI, dr. Erlang Samoedro, SpP(K). (Foto: tangkapan layar)
Kecil Besar
rmol news logo Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati melalui tema Together Through Lung Cancer pada Agustus tahun ini menjadi momentum untuk kembali menyoroti tingginya beban kanker paru di Indonesia. 
HUT RMOL news

Selain angka kejadian dan kematian yang tinggi, penyakit ini juga berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien dan keluarganya.

Ketua Pokja Onkologi Toraks PDPI, dr. Erlang Samoedro, SpP(K), mengatakan tantangan kanker paru semakin kompleks karena penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala spesifik pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.

“Banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada stage lanjut dan memerlukan tata laksana yang lebih kompleks,” kata Erlang lewat zoom meeting, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurutnya, salah satu persoalan utama yang masih sulit dikendalikan adalah faktor risiko, terutama konsumsi rokok dan paparan asap rokok. Sementara program skrining kanker paru bagi kelompok berisiko tinggi belum berjalan luas dan terstruktur.

Keterbatasan akses pemeriksaan deteksi dini juga membuat peluang menemukan kanker paru pada stadium awal belum optimal. Padahal, pada tahap tersebut, terapi dengan tujuan kuratif masih lebih memungkinkan.

Karena itu, Erlang mendorong penguatan pencegahan dan pengendalian tembakau, edukasi masyarakat, serta pengembangan skrining berbasis risiko sebagai bagian penting dari strategi nasional pengendalian kanker paru.

Di sisi pengobatan, perkembangan pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, hingga pemeriksaan biomarker molekular telah memperluas pilihan terapi bagi pasien.

Namun, tingginya jumlah pasien yang datang pada stadium lanjut membuat terapi pada banyak kasus masih berfokus pada pengendalian penyakit, memperpanjang kelangsungan hidup, mengurangi gejala, dan mempertahankan kualitas hidup, bukan mencapai kesembuhan.

Tantangan lain adalah belum meratanya fasilitas diagnosis dan terapi di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut mencakup pemeriksaan molekular, radioterapi, layanan intervensi, hingga ketersediaan dan keterjangkauan obat kanker paru.

Meski demikian, Indonesia memiliki modal penting berupa sumber daya manusia yang terus berkembang. Dokter spesialis paru telah tersebar di berbagai daerah, didukung pengembangan kompetensi melalui fellowship serta keberadaan dokter konsultan yang memperkuat pelayanan kanker paru secara multidisiplin.

“Semangat ‘Together Through Lung Cancer’ menegaskan bahwa perbaikan luaran kanker paru membutuhkan kolaborasi antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah, organisasi profesi, komunitas, industri, dan masyarakat,” jelas Erlang.

Ia menegaskan, kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkuat pencegahan, memperluas skrining dan deteksi dini, meningkatkan akses terhadap diagnosis dan terapi modern, serta menghadirkan pelayanan kanker paru yang lebih merata, terintegrasi, dan berpusat pada pasien di seluruh Indonesia. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA