World Lung Day 2026

PDPI Ingatkan Pentingnya Jaga Paru Sepanjang Kehidupan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Jumat, 25 September 2026, 14:38 WIB
PDPI Ingatkan Pentingnya Jaga Paru Sepanjang Kehidupan
DR. Dr. Jatu Aphridasari, Sp.P(K). (Foto: tangkapan layar)
Kecil Besar
rmol news logo Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan paru sepanjang kehidupan, mulai dari masa kehamilan, kanak-kanak, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.

Pesan tersebut disampaikan dalam momentum World Lung Day atau Hari Paru Sedunia yang diperingati setiap 25 September. Pada 2026, World Lung Day mengangkat tema “A Lifetime of Lung Health” atau Kesehatan Paru Sepanjang Kehidupan.

PDPI menyebut kesehatan paru tidak hanya menjadi perhatian ketika seseorang mengalami batuk atau sesak napas. Kesehatan paru dibangun sejak awal kehidupan dan dipengaruhi lingkungan hingga usia lanjut.

Beban penyakit pernapasan di dunia masih sangat besar. Lebih dari 750 juta orang hidup dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), yang secara bersama-sama menyebabkan sekitar 3,8 juta kematian setiap tahun.

Data WHO 2026 menunjukkan sekitar 363 juta orang hidup dengan asma pada 2023, dengan sekitar 442 ribu kematian. Sementara PPOK menyebabkan sekitar 3,4 juta kematian pada tahun yang sama dan menjadi penyebab kematian ketiga di dunia.

Indonesia juga menghadapi beban penyakit paru yang besar. Lebih dari 6 juta orang diperkirakan hidup dengan asma dan sekitar 5 juta orang dengan PPOK. Indonesia juga menyumbang sekitar 10 persen kasus tuberkulosis dunia, dengan lebih dari satu juta orang diperkirakan mengalami TB setiap tahun.

Di sisi lain, estimasi 2024 menunjukkan sekitar 58 ribu kasus baru kanker paru dan lebih dari 53 ribu kematian akibat kanker paru dalam satu tahun.

PDPI menilai kualitas udara menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kesehatan paru. Polusi udara berkontribusi terhadap sekitar 7 juta kematian prematur setiap tahun, sementara 99 persen populasi dunia masih hidup dengan kualitas udara yang tidak memenuhi pedoman WHO.

Partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran napas dan paru, memicu inflamasi, meningkatkan risiko ISPA dan pneumonia, memperburuk asma serta PPOK, hingga berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular dan kanker paru.

Ancaman tersebut semakin relevan bagi Indonesia karena kebakaran hutan dan lahan masih berulang di sejumlah wilayah. Selain itu, aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan abu dan partikel respirabel yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama pada anak, lanjut usia, serta masyarakat yang telah memiliki penyakit jantung dan paru.

"Karena itu, menjaga kesehatan paru berarti pula menciptakan udara yang lebih bersih di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, dan lingkungan masyarakat. Kualitas udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat perlu mendapat perhatian serius," demikian pesan PDPI dalam naskah yang dibacakan  DR. Dr. Jatu Aphridasari, Sp.P(K), Jumat, 25 September 2026.

PDPI juga menyoroti persoalan konsumsi tembakau di Indonesia. Sekitar 70 juta orang dewasa menggunakan tembakau. Rokok konvensional meningkatkan risiko PPOK dan kanker paru, sekaligus berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, stroke, serta berbagai jenis kanker.

Ancaman baru juga datang dari rokok elektronik atau vape. Penggunaan rokok elektronik pada orang dewasa Indonesia meningkat sekitar 10 kali lipat, dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021 atau lebih dari 6 juta pengguna.

"Rokok elektronik bukan produk yang bebas risiko; aerosolnya mengandung nikotin serta berbagai bahan kimia dan partikel yang berdampak terhadap sistem pernapasan, sekaligus berpotensi menyebabkan ketergantungan nikotin sejak usia muda," tegasnya.

PDPI menekankan perlindungan kesehatan paru harus dilakukan sejak dini. Pada masa kehamilan dan anak-anak, perlindungan dari asap rokok dan polusi udara, nutrisi yang baik, imunisasi, serta pencegahan infeksi diperlukan untuk mendukung pertumbuhan paru.

Sementara pada usia sekolah dan remaja, aktivitas fisik, lingkungan bebas rokok dan vape, serta udara bersih menjadi investasi terhadap fungsi paru di masa depan. Pada usia dewasa, berhenti merokok, menghindari paparan pekerjaan berbahaya, menjaga aktivitas fisik, vaksinasi, serta mengenali gejala penyakit paru sejak dini menjadi langkah penting.

PDPI juga mengingatkan masyarakat tidak menunggu munculnya sesak untuk memeriksakan kesehatan paru. Batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, produksi dahak berlebihan, batuk darah, nyeri dada, infeksi saluran napas berulang, atau penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan.

"Pemeriksaan kesehatan paru dapat meliputi evaluasi klinis, pemeriksaan fungsi paru seperti spirometri, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan infeksi termasuk tuberkulosis, serta pemeriksaan lain sesuai dengan kondisi masing-masing pasien," sambugnya. 

PDPI turut mendorong pemerataan akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan penyakit paru, termasuk ketersediaan obat inhalasi untuk asma dan PPOK, kemoterapi kanker paru, pemeriksaan fungsi paru, pengendalian tuberkulosis, hingga rehabilitasi paru.

Dalam momentum World Lung Day 2026, PDPI mengajak masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, media, dan seluruh pemangku kepentingan menjadikan kesehatan paru sebagai prioritas.

"Kesehatan paru tidak hanya menjadi urusan dokter paru dan tidak dimulai ketika seseorang sudah sakit. Kesehatan paru dimulai dari udara yang dihirup seorang ibu hamil, lingkungan tempat seorang anak tumbuh, pilihan untuk tidak mulai merokok pada masa remaja, perlindungan dari polusi dan paparan pekerjaan pada usia produktif, hingga akses terhadap diagnosis dan pengobatan yang berkualitas pada usia lanjut," demikian PDPI. rmol news logo article



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA