Kondisi ini menarik perhatian serius mengingat karakteristiknya yang berbeda dan berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan terus memantau pergerakan kasus ini secara intensif melalui berbagai titik sentinel.
Pihaknya juga telah menginstruksikan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit untuk meninjau langsung daerah-daerah yang melaporkan lonjakan kasus.
“Ada kenaikan influenza ini selalu kita monitor. Saya dengar ada yang di Jawa Timur, di beberapa titik agak naik. Memang saya sudah minta teman-teman dari P2 untuk lihat di daerah-daerah mana khususnya. Karena itu kan menular, ya,” ungkap Budi.
Kendati demikian, masyarakat diimbau agar tidak panik secara berlebihan. Menkes Budi menegaskan bahwa varian Influenza A yang tengah beredar saat ini berbeda dengan subtipe H5 yang berkaitan dengan flu burung dan tergolong mematikan.
“Cuma kalau Influenza A ini, ini kan bukan influenza yang mematikan ya. Yang kita takutkan karena yang ada H5, yang dulu pernah kejadian yang flu burung,” tambahnya.
Meskipun penanganannya dapat dicegah dengan perlindungan standar, kelompok rentan seperti bayi dan balita perlu mendapat perhatian ekstra.
Pada anak-anak, infeksi ini berisiko berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia, bronkiolitis, peradangan otot, ensefalitis atau peradangan otak, hingga gangguan pada jantung.
Untuk meminimalisasi penularan, langkah pencegahan dapat dilakukan melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Masyarakat dianjurkan untuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun, menghindari kontak langsung dengan penderita, tidak menyentuh area mata, hidung, dan mulut sebelum membersihkan tangan, serta melengkapi perlindungan diri dengan vaksinasi influenza tahunan.
BERITA TERKAIT: