Wainua dikembangkan AstraZeneca bersama Ionis Pharmaceuticals sebagai terapi untuk ATTR-CM, penyakit progresif yang disebabkan penumpukan protein transthyretin abnormal pada jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung dan meningkatkan risiko kematian.
Dikutip dari laman resmi persahaan, Sabtu 11 uli 2026, di dalam uji klinis CARDIO-TTRansform yang berlangsung selama 140 minggu, Wainua tidak mampu menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap angka kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun kejadian kardiovaskular berulang dibandingkan kelompok yang menerima plasebo dengan terapi standar.
Sejumlah analis menilai hasil tersebut kemungkinan dipengaruhi tingginya penggunaan Vyndamax, obat yang telah lebih dahulu dipasarkan oleh Pfizer. Lebih dari 80 persen peserta penelitian diketahui telah atau mulai menggunakan Vyndamax selama uji klinis berlangsung, sehingga manfaat Wainua sebagai terapi tunggal dinilai sulit diukur secara optimal.
Meski analisis pada kelompok pasien tertentu masih menunjukkan potensi manfaat, hasil tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah kesimpulan utama penelitian.
Kegagalan ini menjadi salah satu kemunduran terbesar AstraZeneca dalam pengembangan terapi penyakit jantung dalam beberapa tahun terakhir.
Selain memukul prospek komersial Wainua, hasil uji klinis tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi arah pengembangan obat-obatan kardiovaskular perusahaan pada masa mendatang.
Kegagalan ini juga memukul saham perusahaan dua hari berturut-turut. Saham AstraZeneca kembali merosot lebih dari 3 persen setelah sehari sebelumnya, atau Kamis, anjlok 6,72 persen.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: