Berdasarkan pembaruan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per 9 Juli 2026, waktu setempat, sebanyak 843 kasus Cyclospora yang telah terkonfirmasi secara laboratorium dilaporkan dari 31 negara bagian. Namun, CDC juga mengungkapkan bahwa mereka sedang menelaah lebih dari 1.500 kasus tambahan yang diduga merupakan infeksi Cyclospora dan masih menunggu proses konfirmasi.
CDC menegaskan bahwa sejumlah negara bagian mengalami lonjakan kasus dalam dua pekan terakhir dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Mitra pemerintah negara bagian dan federal sedang bekerja sama menyelidiki beberapa wabah Cyclospora. Investigasi untuk mengidentifikasi sumber penyakit masih berlangsung," tulis CDC, dikutip Sabtu 11 Juli 2026.
Data CDC juga menjelaskan bahwa 86 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi belum ada laporan kematian akibat wabah tersebut.
Cyclospora merupakan penyakit pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis. Gejala paling umum adalah diare berair, yang sering kali sangat berat dan dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan jika tidak diobati. Penderita juga dapat mengalami kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, kram perut, mual, hingga kelelahan.
CDC memperkirakan jumlah kasus sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena sebagian penderita pulih tanpa mencari pertolongan medis sehingga tidak menjalani pemeriksaan laboratorium.
Sementara itu, terdapat 343 kasus tambahan pada orang yang diduga terinfeksi saat bepergian ke luar AS setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Dari kelompok ini, 18 orang dirawat di rumah sakit dan tidak ada kematian yang dilaporkan.
Menurut CDC, kasus Cyclospora biasanya meningkat selama musim semi hingga musim panas, yaitu antara 1 Mei hingga 31 Agustus. Otoritas kesehatan AS bersama FDA masih melakukan penelusuran untuk menemukan sumber makanan yang diduga menjadi penyebab wabah tersebut.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: