"Vape itu menggunakan teknologi yang dipanaskan bukan dibakar sehingga tar, senyawa karsinogenik berbahaya hasil pembakaran pada rokok biasa bisa dikurangi. Bukan berarti dengan vape tidak ada resiko," kata dia dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu, (27/1).
Kemudian dijelaskannya, beberapa penelitian, salah satunya dari Publik Healthy England (PEH) mengungkapkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan dapat menurunkan resiko kesehatan hingga 95 persen.
"Kalau rokok biasa bahayanya 100 persen. Rokok elektrik sebanyak 5 persen," ungkap Amaliya.
Meski aman, dirinya menilai penggunaan vape bisa mengganggu masyarakat yang memang tidak menyukai asap yang berlebihan dari vape, namun hal itu lebih aman dibandingkan dengan rokok konvensional.
"Kalau alat harus terstandarisasi, biasanya batrenya yang meledak. Resiko, tetap ada karena beberapa orang terganggu dengan uap yang berlebihan tetapi dibanding asap rokok itu turun resikonya," tutup Amaliya.
[rus]
BERITA TERKAIT: