Kusta adalah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium LeÂprae. Kusta merupakan peÂnyaÂkit menahun yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh manuÂsia, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan seÂbaÂgian orÂgan tuÂbuh penderita tidak dapat berÂfungsi sebagaiÂmana mestinya.
Tanda-tanda penderita kusta juga bisa dilihat dari adanya berÂcak putih di kulit, merah dan baÂgian tubuh tidak berkeringat. BahÂkan, Indonesia masuk negara penyumbang nomor tiga tertinggi penyakit kusta di dunia, setelah India sebanyak 127.295 kasus dan Brasil sekitar 33.955 kasus.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menuturkan, piÂhakÂnya tengah fokus dalam upaÂya pengendalian kusta dengan memÂberikan fasilitas kesehatan dan edukasi akan bahaya kusta seÂbelum terjadinya kecacatan.
“Saat ini, kesadaran untuk meÂlakukan pola hidup sehat dan berÂsih masih minim. Ditambah, fakÂtor kemiskinan turut andil menÂjadi penyebab tingginya jumlah pengidap kusta,†kata Nafsiah dalam acara peringatan Hari KusÂta Sedunia ke-60 yang berÂtajuk ‘Hapus Stigma dan DiskriÂminasi terhadap Kusta’ di Rumah Sakit Kusta dr Sitanala, TangeÂrang, Rabu (13/2).
Kondisi sanitasi yang buruk dan belum gencarnya edukasi kesehatan mengenai penyakit kusÂta, lanjut Nafsiah, masih menÂjadi kendala dalam menguÂrangi jumlah penderita.
Nafsiah mengatakan, saat ini pihaknya fokus untuk meÂnguÂraÂngi jumlah kasus di kantong-kanÂtong endemis. Caranya, deÂngan melakukan promosi PeÂriÂlaÂku HiÂdup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas digerakkan untuk meÂÂlakukan edukasi dan peÂnyeÂbaran informasi hidup bersih dan sehat langsung kepada masÂyaÂraÂkat,†jelas Nafsiah.
Menkes menjelaskan, bakteri kusta banyak bersarang pada kulit dan mukosa hidung manuÂsia. KuÂman kusta memiliki masa inÂkuÂbasi 2-5 tahun. Belum diÂkeÂtahui secara pasti bagaimana cara peÂnularan kuman kusta.
Namun secara teoritis dikeÂtahui bahwa seseorang terÂinfeksi kusta karena pernah melakukan konÂtak langsung dalam jangka yang sangat lama, dengan orang terÂkena kusta yang belum miÂnum obat.
“Cara masuk kuman kusta keÂpada orang lain diperÂkiÂrakan meÂÂlalui saluran pernafasan baÂgian atas,†ucap Nafsiah.
Menkes akan terus berupaya meÂnekan penyakit ini sejak dini melalui informasi masyarakat, terÂutama anggota keluarga, ke teÂnaga kesehatan sangat dibuÂtuhÂkan. Dengan demikian, peÂngoÂbaÂtÂan dapat dilakukan lebih awal.
“Pendidikan berbasis media menjadi salah satu pilihan. PeriÂlaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bisa dilakukan melalui seÂlebaran, brosur, poster dan bahkan melalui SMS. Upaya ini memÂbutuhkan dukungan dari seluruh
stake holders dan lapisan masyarakat, termasuk orang yang perÂnah mengalami kusta (OYPMK),†terangnya.
Menurut Kepala Sub DirekÂtorat Pengendalian Kusta dan Frambusia Direktorat PengenÂdalian Penyakit Menular LangÂsung Kemenkes Christina WidyaÂningrum, jika penderita kusta bisa segera diketahui dan diobati, maÂka tidak akan terjadi penularan.
Diungkapkan Christina, dari sekitar 95 persen yang terpapar kusta, terdapat potensi sekitar 5 perÂsen yang positif dan 3 perÂsennya bisa sembuh sendiri tanÂpa obat. Hanya 2 persen yang memÂÂbutuhkan obat.
“Jika terjadi gejala segera perÂgi ke Puskemas. Seperti bercak puÂtih atau merah, untuk segera menÂdapatkan pengobatan. PenÂting unÂtuk mensosialisasikan tanda dini kusta dan menÂsoÂsiÂalisasikan kusta dengan benar.
Karena masÂyarakat masih berÂpanÂdangan bahÂwa kusta itu kuÂtukan, keturunan, guna-guna dan sebagainya,†jelas Christina.
Penyakit kusta, kata dia, hingÂga kini tidak ada vaksinasi untuk menyembuhkan penyakit terseÂbut. “Faktor pengobatan adalah amat penting di mana kusta dapat dihancurkan sehingga penularan dapat dicegah,†tukasnya.
Menkes: Sudah Dikucilkan, Penderita Sering Ditolak BerobatMenteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi tidak menepis ada penderita kusta sering ditolak berÂobat di rumah sakit. Bahkan penÂderita kerap dikucilkan di lingkuÂngannya. Akibatnya, penÂdeÂrita kusta enggan melaÂkukan pengoÂbatan sejak dini.
Menurut Nafsiah, tingginya penderita kusta juga dikaÂreÂnaÂkan minimnya pengetahuan serÂta sosialisasi penyakit ini keÂpaÂda masyarakat. Kondisi ini seÂmakin memperburuk keadaÂan penderita kusta dan mengÂhamÂbat program peÂnangguÂlangan kusta di Indonesia.
“Makanya diperlukan eduÂkasi kepada masyarakat secara meÂnyeÂluruh. Sampai saat ini, kami masih terus mengÂupaÂyaÂkan dan menggenjotnya hingÂga ke semua laÂpisan masyaÂraÂkat,†ujar Nafsiah.
Dia menyebutkan, beÂbeÂrapa penolakan yang kerap diÂalami para penderita kusta dalam berÂobat ke dokter, di antaranya, takut dikeluarkan dari pekerjaÂan dan diceraikan pasangan.
â€Bahkan, tidak jarang disÂkriÂminasi ditunjukkan dalam benÂtuk keengganan petugas keÂsehatan melayani penderita kusÂta, yang seharusnya justru memÂberikan pelayanan kepada penÂderita,†keluh Menkes.
Pihaknya menekankan, dalam upaya pengendalian kusta, diÂperÂÂlukan perhatian dalam hal peÂneÂmuan penderita kusta. Serta peÂngobatan dini sebelum terjadiÂnya kecacatan, khuÂsusnya di faÂsilitas pelayanan kesehatan.
Direktur Jenderal PengenÂdaÂlian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menambahkan, dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibuÂtuhkan moÂtivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita mauÂpun masyarakat.
“Penderita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya, seÂhingÂga akhirnya mereka dapat berÂdaÂya dalam menolong diriÂnya senÂdiri bahkan orang lain,†ujar Tjandra.
Dari segi persebaran, lanÂjutÂnya, provinsi dengan tingkat peÂnemuan kasus lebih dari 10 per 100.000 penduduk antara lain Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Jawa Timur meruÂpaÂkan provinsi dengan jumlah kaÂsus terbanyak, 5.284 kasus.
Di kawasan ASEAN, IndoÂneÂsia menduduki tempat teratas. Myanmar di urutan kedua dengan 3.082 kasus, Filipina ketiga (2.936). Dua negara tetangga Indonesia, Malaysia hanya 216 kasus dan Singapura 11 kasus.
Manajer Program Malaria dan Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) IndoÂnesia Anand B Joshi mengÂaÂtakan, Indonesia telah berusaha keras mengeliminasi kusta.
“Upaya pencegahan dengan melakukan pendidikan dan proÂmosi hidup sehat diprioritaskan. Dengan usaha gigih seperti yang dilakukan beberapa tahun terÂakhir, lima tahun ke depan InÂdonesia bisa bebas kusta,†ucap Anand. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: