Tapi sayangnya, pangsa pasar obat generik cenderung stagnan, yakni sekitar 10-11 persen di InÂdoÂnesia. Sedangkan volume penÂjualan obat generik membesar. Hal itu dikataÂkan Direktur JenÂderal Bina KeÂfarmasian dan Alat Kesehatan KÂeÂmenterian KeÂsehatan (Kemenkes) Maura LinÂda Sitanggang.
“Volume penjualan obat geÂnerik terus membesar sekitar 40 persen dari penjualan obat naÂsional. Di negara-negara maju, voÂlume penÂjualan obat generik mencapai 80 persen,†ungkap Linda di Jakarta.
Menurut dia, penggunaan obat generik yang kualitasnya sama dengan obat bermerek yang hargaÂnya jauh lebih mahal, sangat memÂÂbantu masyarakat. Sebab, obat geÂnerik sudah melalui stanÂdÂaÂrisasi mutu sehingga masyarakat tak perlu ragu mengÂkonÂsumÂsiÂnya.
“Saya kira masyarakat tidak perlu khawatir, obat generik tiÂdak kalah hebatnya dengan obat berÂmerek,†tegas Linda.
Head of Marketing and Sales Obat Generik Berlogo (OGB) Dexa Tarcisius T Randy juga meÂnyatakan, mutu jenis obat generik tak kalah hebatnya dengan obat berÂmerek. Apalagi, biaya pengoÂbaÂtan saat ini masih terbilang maÂhal dan kerap dikeluhkan pasien. PaÂsalnya, obat adalah salah satu komponen terbesar pembiayaan pengobatan sebuah penyakit, yaitu sekitar 30 -35 persen.
“Harga obat generik berlogo (OGB) di pasar obat nasional jauh lebih murah dibandingkan obat asli. Ini bisa dijadikan pilihÂan bagi pasien,†kata Tarcisius saat menggelar diskusi media yang bertema ‘OGB Sebagai Cara Hemat Untuk Sehat, di JaÂkarta, Kamis (28/6).
Selama ini, sebagian besar maÂsyarakat masih menganggap bahÂwa mutu OGB jauh berbeda dari obat paten. Padahal, untuk memÂproduksi OGB dibutuhkan syarat dan ketentuan tertentu. Tak semÂbarangan, hanya perusaÂhaan yang memiliki standar cara proÂduksi obat yang baik yang dapat memÂproduksinya.
Sekalipun harganya lebih muÂrah dibanding obat bermerek, vaÂrian obat ini bukan murahan dan tidak berkualitas. Ditambah lagi, katanya, pemerintah berwenang untuk menetapkan harganya.
Dikatakan, sebagian besar maÂsyarakat saat ini menilai, OGB seÂmakin positif dan lebih meÂngeÂnalÂnya. Bahkan, maÂsyaÂraÂkat sekarang sudah beÂrani mÂeÂminta obat generik untuk direseÂpÂkan.
Menurut Randy, beberapa fakÂtor yang membuat jenis obat ini jauh lebih murah. Pertama, OGB diproduksi dalam volume yang besar sehingga biaya proÂduksinya lebih kecil. Volume bahan baku dan keÂmasan yang digunakan juga berjumlah besar. Harga pemÂbeÂlian bahan bakunya lebih renÂdah diÂbanding dalam volume kecil.
KeÂdua, OGB didesain sederÂhana, tapi kondisi kemasannya teÂtap baik (sesuai ketentuan BaÂdan PeÂngaÂwas Obat Makanan (BPOM), unÂtuk menjamin kualitas obat, seÂhingga menurunkan biaya kemasan. “Kemasannya lebih sederhana, tidak berwarna-warni dan tetap berÂkualitas,†ujarnya.
Ketiga, obat generik hanya meng-copy obat paten yang suÂdah berakhir masa patennya, seÂhingga untuk menilai khasiat, keamanan dan kualitas, obat generik tidak diperÂlukan lagi uji klinis yang mahal.
Untuk memproduksi obat geÂnerik, katanya, ada beberapa kriÂteria yang wajib dipenuhi proÂduÂsen obat. ProÂduÂsen yang mau memÂproduksi OGB harus sudah memiliki Certificate of Authenticity (COA) atau dokumen autentik yang dikeluarkan pihak berÂweÂnang, di mana dokumen itu menÂjamin kemurnian dan kualitas obat.
Selain itu, setiap produsen OGB juga harus memiliki sertiÂfikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). “Kami terus berÂupaya mempromosikan bagaimaÂna masyarakat benar-benar perÂcaya OGB dan tidak khawatir mengÂgunakan OGB,†katanya.
Salah satu upaya PT Dexa MeÂdica membangun merek adalah membuat slogan yang berbunyi “OGB Dexa, Segitiga Merahnya, Bikin Hematâ€. Pemilihan warna merah adalah agar produk OGB Dexa lebih eye catching, karena obat generik berlogo tidak menÂcantumkan merek tertentu, meÂlainkan nama generiknya.
Obat generik adalah obat yang bahan aktifnya off patent (masa patennya 20-25 tahun habis). Setelah masa paten berakhir dan tidak diperpanjang pemilik paten, produsen farmasi umumnya mau membuat obat yang off patent tersÂebut. Kini, obat murah ini menÂjadi pilihan di berbagai ruÂmah sakit pemerintah, bahkan ruÂmah sakit swasta sekalipun. WaÂlau banyak yang meremehkan kuaÂlitasnya, produsen obat yakin peluang ini makin besar.
Pada dasarnya, obat generik diÂkelompokkan menjadi dua, yakni obat generik berlogo dan obat geÂnerik bermerek. OGB adalah obat yang tidak memiliki merek daÂgang dan menggunakan zat akÂtifnya sebagai nama produk. MiÂsalnya, parasetamol.
Rangkaian OGB saat ini saÂngat lengkap untuk berbagai peÂnyakit mulai dari obat antinyeri dan inÂflaÂmaÂsi, antihipertensi, antiÂbioÂtika, antiÂÂjamur, antihisÂtamin, konÂtiksÂteÂroid, antikolesÂterol, dan lainnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: