Beberapa progam pemerintah, seperti Jaminan Kesehatan MaÂsyaÂrakat (Jamkesmas) mengÂÂharuskan penggunaan obat gÂeÂnerik berlogo.
Head of MarÂketing and Sales OGB Dexa Medica Tarcisius T Randy memÂperkirakan, penetaÂpan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan muÂlai berlaku pada 1 Januari 2014 bisa memicu perÂmintaan terhadap OGB semakin meÂningkat.
Pasalnya, obat yang akan diÂguÂnaÂkan peserta SJSN obat adalah OGB. Jika total penduduk IndoÂnesia 257 juta jiwa saat ini, baru 137,8 juta jiwa saja yang ter-cover asuransi pada 2013 menÂdatang. Sedangkan, masih ada 119,2 juta jiwa yang belum terÂjangkau asuransi kesehatan.
“Ini merupakan peluang pasar untuk meng-cover obat yang diÂbutuhkan oleh orang-orang yang belum terjangkau asuransi keseÂhatan,†katanya.
Randy mengusulkan, masÂyaraÂkat juga harus terus diberi eduÂkasi soal mutu obat generik hingÂga mau menggunakannya.
Alhasil, beberapa dokter kaÂrena telah mengetahui kualitas OGB, mau meresepkannya. PaÂsalÂnya, selama ini pasien kerap enggan menanyakan pada dokter tentang penyakit maupun obat yang diterimanya.
Mereka datang ke dokter, seÂlanÂjutnya menerima resep dan diÂtebus ke apotek. Pemberdayaan konsumen menjadi salah satu kunci agar informasi mengenai OGB sampai ke masyarakat.
Yang masih jadi masalah saat ini adalah, belum semua pasien meminta obat generik. Bahkan, masih ada anggapan dengan harÂga yang lebih murah, khasiat obat generik tidak sebanding dengan obat paten.
Padahal, menurut dia, harga OGB yang lebih murah menÂdaÂtangkan keuntungan yang besar bagi produsen dan konsumen. Mempromosikan obat generik adalah proÂgram pemerintah daÂlam meÂnyediakan obat murah tapi berÂmutu bagi masyarakat,
Randy menyatakan, tren paÂsar OGB terutama di Indonesia dari tahun 2009-2011 terus meÂningkat sebesar 23 persen. Jika dicermati, pertumbuhan RS, khuÂsusnya yang menggunakan OGB sangat agresif, mencapai 28 persen.
Pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia sebagian besar dari kontribusi pertumbuhan OGB. Pertumbuhan pasar OGB lebih tinggi dari pasar farmasi atau pasar obat di Indonesia.
“Beberapa rumah sakit swasta juga sudah banyak yang mengÂguÂnakan OGB. Bahkan, bebeÂrapa rumah sakit swasta kelas atas juga suÂdah menggunakan OGB,†kata randy.
Ia menilai, meningkatnya perÂmintaan OGB di RS swasta lebih ditujukan untuk pasien-pasien kelas tiga. Jika RS swasÂta tidak meÂnyeÂdiaÂkan OGB, biaÂya peraÂwaÂtannya bisa memÂbengÂkak. Alhasil, RS swasta bisa kehilaÂngan pasien jika tiÂdak menerima kelas tiga. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: