Selain mendukung program BaÂÂdan Penyelenggara Jaminan SoÂsial (BPJS), regulasi baru ini daÂpat membangun pelayanan keÂsehatan primer lewat Puskesmas atau dokter umum dengan biaya kesehatan yang lebih murah.
Hal itu dikatakan Ketua BiÂdang PeÂngembangan Sistem PeÂlaÂyanan Kedokteran Terpadu deÂngan SisÂtem Rujukan Pengurus Besar IkaÂtan Dokter Indonesia (IDI) dr GaÂtot Soetono MPH, di acara diaÂlog interaktif terkait Badan PeÂnyeÂlengÂgara Jaminan Sosial (BPJS) dalam membangun pelaÂyanan priÂmer di Jakarta, Selasa (26/6).
“Salah satu penyebab maÂhalÂnya biaya kesehatan adalah beÂlum terbangunnya pelayanan keÂÂseÂhaÂtan primer dengan baik, seÂÂhingÂga masyarakat cenderung memilih ke dokter spesialis atau rumah saÂkit swasta yang biaya keseÂhaÂtanÂnya lebih mahal,†teÂrang Gatot.
Gatot menyampaikan, saat ini InÂdonesia hanya memiliki UU No.44/2009 tenÂtang Sistem RuÂmah Sakit, tapi belum memiliki UU sistem pelayanan keÂsehatan. Padahal, kata Gatot, OrÂÂganisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencanangkan seÂluÂruh negara untuk memÂbaÂngun sistem peÂlaÂyanan kesehatan berÂbaÂsis peÂlaÂyanan kesehatan primer untuk menekan tingginya biaya pelaÂyanan kesehatan.
“Diharapkan Undang-Undang sistem peÂlaÂyanan kesehatan bisa segera diÂbuat, seiring terbentukÂnya BPJS,†harap Gatot.
Menurutnya, Indonesia memÂbuÂtuhkan satu pelayanan primer yang handal dan canggih buat masyarakat. Saat ini diÂbutuhkan sekitar 60.000 dokter umum. KeÂberadaan dokter umum diperunÂtukkan buat memÂbangun pelaÂyanan kesehatan priÂmer lewat PusÂkesmas di sejumlah daerah.
“Harus ada reorientasi sistem pendidikan kedokteran yang mamÂÂpu mencetak dokter umum unÂtuk pelayanan primer. Karena dari 5.000-6.000 lulusan dokter per tahun, belum ada yang disiapÂkan untuk menjadi dokter priÂmer,†ungkap Gatot.
Terkait masalah distribusi dokÂter yang selama ini tidak merata dan masih berpusat di kota-kota besar, IDI mengusulkan peÂmeÂrintah membuat suatu Indeks PrakÂÂÂtek Geografi. Artinya, apÂaÂbila dokÂter ditempatkan di daeÂrah teÂpencil, mereka harus menÂdapat poin lebih tinggi ketimÂbang teÂman seÂjawat mereka yang berÂtugas di kota.
“Setiap orang ingin lebih baik. Jadi bukan hanya pendapatan yang mereka butuhkan, tetapi juga dukungan untuk hidup laÂyak,†tegas Gatot.
Wakil Ketua Komisi IX DPR bidang Kesehatan Nova Riyanti Yusuf mengatakan, keberadaan dokter umum sudah selayaknya diperbanyak, terutama di sejumÂlah daerah. Dengan adanya dokÂter umum, maka pelayanan keÂseÂhatan primer bisa lebih optimal.
Menurut dia, dokter umum meÂmiliki peran penting dalam peÂlakÂsanaan BPJS. Sebab, tanpa dokter umum, BPJS tidak mungÂkin daÂpat terlaksana secara makÂsimal.
Karena itu, serikandi Demokrat ini mendorong keterlibatan IDI dan sejumlah asosiasi dokter lainÂnya dalam menentukan jasa meÂdik dan sistem pembayaran bagi para dokter umum di daerah.
“Keberadaan BPJS harus menÂjadi awal untuk membenahi peÂlaÂyanan primer di sejumlah daeÂrah sehingga biaya kesehatan rakÂyat bisa terjangkau,†paparÂnya.
Menurut Nova, IDI juga perlu menetapkan tarif jasa dokter speÂsialis sehingga ada titik temu yang pantas mengenai tarif. KaÂrena itu, tidak bisa disamakan anÂtara dokter yang bertugas memÂberikan pelayanan di daerah terÂpencil dan di daerah perkotaan.
“Saya kira Kementerian KeseÂhaÂtan bersama IDI mesti meruÂmusÂkan masalah ini dengan ceÂpat. Sehingga pelayanan priÂmer bisa lebih optimal dirasakan maÂsÂyarakat,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: