Penyakit ini biasa mengÂancam satu dari empat orang usia di atas 40 tahun dan satu dari dua penderita diabetes. Kini, penyakit itu mulai menyerang anak muda.
Ketua Studi Neurologi dan SyaÂraf Tepi dari Departemen NeuÂÂrologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Dr Manfaluthy Hakim menjeÂlaskan, neuropati bisa menyeÂrang siapa saja, terutama pada usia 40 tahun ke atas.
Selain itu, risiko tinggi juga dapat terkena bagi penderita diaÂbetes atau mereka yang berisiko diabetes, pemilik riwayat neuÂroÂpati di keluarga, penderita peÂnyakit jantung dan hipertensi, perokok, serta mereka yang suka mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.
“Secara umum, neuropati seÂringkali tidak disadari sebagai penyakit, melainkan dipandang sebagai kondisi yang umum terÂjadi. Padahal jika dibiarkan, konÂdisi neuropati dapat mengÂgangÂgu mobilitas penderitanya,†kata Manfaluthy Hakim dalam DisÂkusi Media bertajuk Kenali NeuÂropati dan Perhatikan GeÂjaÂlanya di Jakarta, Selasa (29/5).
Untuk mencegah neuropati, kata dia, perlu penerapan pola hiÂdup sehat dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang seimbang, terutama vitamin B. Nutrisi ini penting untuk melindungi dan meregenerasi sel-sel syaraf.
“Kesemutan secara spontan tanpa ada penyebabnya perlu diÂwaspadai karena itu bisa merusak saraf tepi tubuh,†warning Hakim.
Ketua Perhimpunan Dokter SpeÂsialis Saraf Indonesia (PerÂdossi) Prof dr Moh Hasan MachÂfoed menambahkan, neuroÂpati merupakan kondisi gangÂguan dan kerusakan saraf yang diÂseÂbabkan oleh trauma pada saraf, atau kaÂrena efek samping dari suatu peÂnyakit sistemik.
“Sekitar 26 persen atau 1 dari 4 orang yang berusia 40 tahun ke atas terkena neuropati. Pada penderita diabetes, angka prevaÂlensi ini meningkat menjadi 50 persen atau 1 dari 2 penderita. Neuropati dapat menyerang meÂreka yang mengalami defisiensi vitamin B1, B6, dan B12,†beÂber Hasan.
Lebih lanjut Ia menguraikan, risÂiko ini semakin besar pada mereka yang berusia di atas 40 tahun, menderita diabetes atau berisiko menderita diabetes.
“Vitamin yang termasuk ke dalam golongan neurotopik adaÂlah vitamin B1, B6 dan B12. Jika kekurangan vitamin B1 bisa meÂnyebabkan neuropati yang meÂnyakitkan pada anggota gerak tubuh,†cetusnya.
Vitamin B6 diperlukan oleh sistem saraf dan sistem imun agar bisa berfungsi dengan baik. SeÂdangkan vitamin B12 penting untuk pembentukan selubung mieÂlin (selubung yang mengeÂliÂlingi dan melindungi saraf) dan nukleoprotein.
Hasan menyatakan, mielin ini sangat penting untuk memperÂlanÂcar aliran organ tubuh dari otak ke seluruh tubuh. Jika keÂkuÂraÂngan vitamin B12, bisa meÂnyeÂbabÂÂkan rusaknya seluÂbung meiÂlin sehingga terjadi gangÂguan paÂda saraf seperti baal, mati rasa, keÂsemutan, kram dan kaku-kaku.
“Rusaknya meilin dapat memÂbuat rangsangan dari luar nggak cepat sampai ke otak sehingga responsnya jadi terlambat,†kata Hasan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: