Meski efektif, warfarin ini meÂmiliki risiko menimbulkan komÂplikasi berupa pendarahan, seÂhingga dibutuhkan pengawasan ketat dari dokter dalam pengÂgunaan obat tersebut.
“Pengawasan dokter dalam pengobatan penderita FA sangat penting agar proses peÂnyemÂbuÂhanÂnya lebih baik,†saran Yoga.
Dia menjelaskan, penyakit stroÂke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi mendadak akiÂbat pasokan darah ke suatu baÂgian otak sehingga peredaran darah ke otak terganggu.
“Kurangnya aliran darah dan oksigen bisa merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak sehingga menyebabkan kelumÂpuhan anggota gerak, gangguan bicara, penurunan kesadaran bahÂkan kematian pada jaringan otak,†terangnya.
Menurut Yoga, stroke merupaÂkan peÂnyebab kematian tertinggi untuk kategori penyakit tidak meÂnular dimana diperÂkirakan satu orang di dunia meÂninggal tiap enam detik karena stroke atau hampir enam juta orang per tahun.
Head Education And Research Division, National CarÂdiÂoÂvasÂcuÂlar Center RS Harapan Kita JaÂkarta dr. Rinambaan Willem MaÂmentu Kaligis menambahkan, pengawasan obat warfarin sangat perlu karena obat itu memiliki sifat kontradiksi dengan obat-obatan lain ketika dicerna.
Selain itu, kata Rinamban, paÂsien dibatasi mengkonsumsi maÂkanan yang meÂngandung vitamin K seperti baÂnyak pada sayuran mengingat warÂfarin adalah anÂtagonis vitaÂmin K padahal saÂyuran dibuÂtuhkan tubuh. Tapi karena sulit dikontrol, darah bisa terlalu encer yang beÂrisiko penÂdarahan ataupun terlalu kental yang meningkatkan risiko stroke.
Ia membeberkan, sebuah studi global Rivaroxaban Once daily oral direct Factor Xa inhibition Compared with vitamin K antaÂgonism for prevention of stroke and Embolism Trial in Atrial Fibriilation (Rocket AF) memÂbandingkan antara penggunaan obat anti pembekuan darah warÂfarin dengan obat sejenisnya, yaitu rivaroxaban dalam peÂnangÂgulangan stroke.
Studi tersebut menunjukan, rivaroxaban terbukti lebih baik dalam mengurangi terjadinya stroke pada pasien FA dengan penekanan risiko pendarahan fatal dan pendarahan intrakarÂnial yang lebih rendah.
“Dengan adanya temuan terÂsebut, memberi pilihan baru bagi pasien FA untuk mencegah terjaÂdinya stroke dengan pengobatan lebih efektif dan lebih aman,†ujar mRinamban. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: