Kepala Departemen PsiÂkiaÂtri RSCM dr Ayi Agung KuÂsuÂmaÂwardhani, SpKJ(K) meÂngaÂtakan, pada gangguan bipolar, pasien sering merasa sangat senang samÂpai ingin melakukan banyak hal dan sulit mengontrol keinginannya.
Namun saat merasa sedih, pasien sering menarik diri, meÂnyaÂlahkan diri sendiri dan bahkan memiliki kecenderungan bunuh diri. Bahkan, angka kematian akibat bunuh diri yang diseÂbabÂkan gangguan bipolar lebih tinggi dibandingkan angka kematian bunuh diri dalam populasi umum.
“Angka bunuh diri yang diaÂkiÂbatkan gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibanding angka buÂnuh diri dalam populasi umum tanpa gangguan bipolar, yaitu 21,7 persen dibanding satu perÂsen,†ungkapnya.
dr Agung mengatakan, depresi yang dialami saat remaja meÂmiliki kemungkinan 20-40 persen berkembang menjadi gangguan bipolar. Penderita gangguan biÂpolar 2-3 kali lebih berisiko meÂlakukan bunuh diri dibanding penÂderita skizofrenia.
Pasalnya, pasien bipolar memiÂliki kecenderungan berhalusinasi dan mengalami gangguan keceÂmasan seperti halnya pasien skiÂzofrenia. Akhirnya, pasien gangÂguan bipolar banyak yang menÂdapat penanganan untuk mengÂatasi skizofrenia, padahal peÂngoÂbatannya berbeda.
Pada pasien skizofrenia dan depresi, biasanya diberikan obat anÂÂtidepresan sudah cukup memÂbantu. Namun pada pasien gangÂguan bipolar, obat ini kurang efektif dan dapat menimbulkan efek samping seperti tremor dan kekakuan otot.
“Untuk pasien gangguan bipoÂlar, sebaiknya diberi obat mood stabilizer untuk menenangkan perubahan mood yang ekstrim,†kata dr Agung. Setelah pasien gangguan bipolar tenang, baru program terapi untuk memÂbeÂriÂkan pemahaman mengenai gejala penyakit dan cara mengatasi keÂcemasan dapat diberikan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: