Hal itu dikatakan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso, di peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2017, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (13/7).
"Narkoltika ini sudah mengancam dunia dan bisa digunakan sebagai salah satu senjata dalam Proxy War untuk melumpuhkan kekuatan bangsa," ujar perwira tinggi polisi yang biasa disapa Buwas itu di depan ribuan undangan.
Lanjutnya, kejahatan tersebut harus diberantas dan ditangani secara komprehensif. Karena itu, BNN menyiapkan strategi khusus.
"Antara lain lewat strategi demand reduction dan supply reduction," tutur mantan Kabareskrim Polri itu.
Artinya, terang Buwas, pertama-tama menekankan tindakan preventif guna memberi kekebalan kepada masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat kebal terhadap penyalahgunaan narkotika.
"Untuk strategi supply reduction, difokuskan pada penegakan hukum yang tegas dan terukur agar sindikat narkotika jera," jelas alumnus Akpol 1984 itu.
Indonesia, kata Buwas, merupakan negara yang menjadi salah satu sasaran terbesar peredaran gelap narkotika. Termasuk, pembuatan prekursor alias bahan kimia narkotika yang dikendalikan jaringan nasional atau internasional. Sudah sewajarnya jika pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dalam menghadapi bentuk perang modern tersebut.
"Tindakan tegas ini, mendorong BNN sebagai lembaga negara yang bertugas melaksanakan bidang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba atau P4GN, untuk lebih agresif dalam menangani narkotika di Indonesia," pungkas mantan Kapolda Gorontalo tersebut.
Peringatan HANI 2017 mengusung tema, LISTEN FIRST : Listening to children and youth is the first step to help them grow healthy and safe. Tema ini berarti, mendengarkan suara hati anak-anak dan generasi muda merupakan langkah awal untuk membantu mereka tumbuh sehat dan aman dari penyalahgunaan narkotika.
[ald]
BERITA TERKAIT: