Dalam percakapan, Djarot terkesan tunduk kepada setiap permintaan yang dilontarkan Irman. Terlebih, saat Irman membujuknya untuk menjadikan CV Semesta Berjaya sebagai tangan kanan Bulog dalam distribusi gula di Sumatera Barat.
Untuk meyakinkan Djarot, Irman membeberkan bahwa CV Semesta Berjaya milik terdakwa Xaveriandy Sutanto dan istrinya Memi bakal bekerja dengan baik sebagai mitra Bulog, dan didukung oleh sekjen perdagangan hingga gubernur Sumbar.
Djarot membenarkan bahwa dalam pembicaraan melalui telepon, Irman merekomendasikan seorang pengusaha untuk menjadi mitra Bulog di Sumbar. Pengusaha yang dimaksud yakni Memi, istri dari Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto.
Djarot mengakui dirinya terpengaruh permintaan Irman lantaran senator asal Sumbar itu memiliki konstituen di Padang.
"Karena beliau (Irman) orang yang memiliki konstituen di Padang, jadi bisa mempengaruhi saya," ujarnya saat dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Sutanto dan Memi di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta, Selasa (15/11).
Berikut transkip pembicaraan antara Irman dan Djarot yang dibeberkan Jaksa KPK di persidangan;
Irman : Pak Gubernur mendukung,semua mendukung, Sekjen Perdagangan mendukung, kalo dia kerja nggak bagus saya kan nggak enak kan sama pak Djarot. Nanti kan, oh ini pak Irman nih tapi karena saya tau orangnya bagus dan memang dia hidupnya di sana.
Djarot : Iya Pak. Iya pak.
Irman : Jadi kalo bisa pak Djarot, eh bina dia tuh. Menurut saya, apa saya sangat rekomen sekali.
Djarot : Baik kalo gitu saya minta
Irman : Yah
Djarot : Apa, sms nomor telepon sama nama ya pak. Nanti biar saya
Irman : Boleh jadi nanti saya minta nomornya. Saya namanya bu Meme, Nanti saya kasih nomornya Pak Djarot. Nomor Pak Djarot boleh ya saya kasih dia
Djarot : Oh siap siap pak. Siap-siap.
Irman : Iya kan. Jadi Ha ah. Mohon dibantu kebetulan Pak Benhur disana. Dia ini cuma kan namanya Kadis. Sama Kabulog lan jauh bener kan. Kaya lihat matahari.
Djarot : Nggak berani dia. Haha
Irman : Dia bilang udah lewat Pak Irman aja katanya. Ah yaudah nanti saya bilang kerjanya yang bagus ya. Saya bilang begitu.
Djarot : Hhmm. Baik, baik, baik.
Irman : Ha ah. Karena orang ini yang sudah saya yakini anu-nya selama ini dapatnya dari Medan, dari jakarta. Berapa ongkosnya Pak? Tapi kalo pak djarot bisa menjadi dia tuh kan tangan kanan dia bisa disuruh operasi. Dia bisa jadi tangan kanan kita. Kalo semuanya bs dia ikutin secara aturannya kan.
Djarot : Ya, ya, ya, ya.
Irmah : Ha ah. Dan bahkan dia punya niat juga untuk bisa lebih berkembang lagi untuk gula lebih baik gitu loh.
Djarot : Baik pak. Nanti jadi perhatian tuh.
Irman : Ha ah. Jadi, ha ah. Jadi perhatian. Ya bagus lah.
Djarot : Nggih.
[wah]
BERITA TERKAIT: