Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengatakan keputusan tersebut disebut diambil akibat keterbatasan pendanaan WHO, di tengah kelangkaan bahan bakar dan minyak yang semakin parah.
“Mengingat kelangkaan bahan bakar dan minyak yang parah, dan kegagalan untuk mengirimkan kebutuhan minimum yang diperlukan untuk mengoperasikan rumah sakit dan pusat kesehatan di Jalur Gaza, WHO mengumumkan penangguhan pasokan diesel ke lebih dari 20 rumah sakit dan pusat kesehatan, mulai 19 September, karena kurangnya dana,” kata Bursh dalam pernyataannya, dikutip dari
Anadolu News, Selasa, 15 September 2026.
Bursh memperingatkan, pasokan bahan bakar yang terbatas selama ini hanya cukup untuk mempertahankan operasional fasilitas kesehatan.
Dia menegaskan penghentian pasokan solar dapat berdampak langsung terhadap layanan medis vital, mulai dari generator hingga ruang operasi dan unit perawatan intensif.
“Penghentian pasokan tidak hanya berarti generator mati, tetapi juga penutupan ruang operasi dan unit perawatan intensif, gangguan pada ventilator dan stasiun oksigen, serta ancaman terhadap nyawa anak-anak di inkubator, pasien dialisis, korban luka, dan mereka yang menderita penyakit kronis," tambah Bursh.
Menurut Bursh, krisis bahan bakar juga berpotensi melumpuhkan ambulans serta sistem penyimpanan obat dan vaksin yang membutuhkan rantai pendingin.
"Krisis bahan bakar mendorong rumah sakit untuk tutup total dan menyebabkan pasien menghadapi kematian yang dapat dicegah,” ujarnya.
Sementara itu, belum ada komentar langsung dari WHO terkait keputusan yang disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza tersebut.
Di sisi lain, kelangkaan bahan bakar dan suku cadang telah membuat sejumlah generator rumah sakit berhenti beroperasi dalam beberapa hari terakhir, sehingga semakin mengancam layanan kesehatan di Gaza.
BERITA TERKAIT: