“Kita berada dalam perang ekonomi, militer dan keamanan skala penuh,” kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi dan dikutip kantor berita pemerintah Iran,
IRNA, Minggu, 23 Agustus 2026.
Pezeshkian mengakui pemerintah Iran merasa malu karena tengah menghadapi masalah ekonomi.
Namun, pemerintah disebut terus berupaya mengatasi kesulitan tersebut dan memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah apa yang disebutnya sebagai perang tidak seimbang.
“Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi yang paling berat atau paling mengerikan terhadap Iran," ujar Pezeshkian, merujuk pada ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi berat terhadap Iran.
Dia menegaskan Tehran tetap berdiri teguh dan terus berupaya melayani rakyat Iran.
Menurut Pezeshkian, musuh memperkirakan Iran akan mengalami keruntuhan jika mendapat tekanan besar. Namun, prediksi tersebut tidak terbukti karena Iran justru mampu menunjukkan ketahanan dan persatuan.
“Musuh telah memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, negara itu akan menjadi seperti Venezuela. Bukan hanya hal itu tidak terjadi, tetapi Iran malah menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub dengan daya tahan, solidaritas, dan kekompakannya.” tegasnya.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar untuk mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari.
Namun, perundingan lanjutan menuju kesepakatan final kini terhenti akibat perselisihan terkait implementasi nota tersebut serta pengaturan navigasi di Selat Hormuz, jalur penting bagi ekspor minyak dan gas dunia.
BERITA TERKAIT: