Langkah darurat itu diambil menyusul gelombang kedatangan sekitar 60 ribu migran dalam dua hari terakhir yang memicu kekhawatiran di tingkat Uni Eropa.
Penghalang sepanjang 500 meter tersebut mulai dipasang sejak Sabtu waktu setempat, 1 Agustus 2026 di kawasan pemecah ombak Tarajal, salah satu jalur utama yang digunakan migran untuk memasuki Ceuta.
Barier pneumatik itu dipadukan dengan deretan pelampung yang ditambatkan di laut dan dirancang menjulang 30 hingga 70 sentimeter di atas permukaan air serta memanjang hingga satu meter di bawah permukaan.
Sebuah jalur khusus tetap disediakan agar kapal patroli Penjaga Sipil Spanyol dapat beroperasi.
Otoritas Spanyol menyebut sekitar 60 ribu orang memasuki Ceuta melalui jalur darat dan laut sejak Kamis.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 48 ribu orang telah dipulangkan ke Maroko dalam waktu 48 jam. Aparat juga melaporkan tidak ada lagi penyeberangan signifikan pada Sabtu dini hari, sementara patroli gabungan polisi dan militer terus disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang susulan.
Krisis tersebut menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Sedikitnya 67 jenazah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol setelah sejumlah migran tenggelam dan lainnya terinjak saat berusaha melewati pemecah ombak maupun pagar perbatasan.
Peristiwa itu mendorong 22 negara anggota Uni Eropa mendesak koordinasi bersama untuk memperkuat pengamanan perbatasan eksternal blok tersebut.
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska menuding jaringan penyelundup manusia telah memanfaatkan para migran dengan menyebarkan informasi yang menyesatkan terkait putusan Mahkamah Agung Spanyol mengenai pemulangan migran yang dicegat di laut.
Dia menegaskan situasi kini mulai terkendali, meski pengamanan tambahan masih akan dipertahankan.
"Maroko bukanlah ancaman bagi Ceuta atau wilayah Spanyol lainnya. Maroko adalah mitra yang sepenuhnya dapat diandalkan," kata Grande-Marlaska.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pedro Sanchez mengkritik keputusan Italia yang menghentikan sementara kebijakan bebas paspor Schengen bagi perjalanan dari Spanyol selama satu bulan.
Menurutnya, langkah tersebut justru memperkeruh situasi di tengah krisis migrasi.
"Dalam konteks internasional saat ini, Uni Eropa tidak mampu memberikan reaksi yang egois, memecah belah, dan melanggar hukum seperti ini," tulis Sanchez dalam surat kepada pimpinan Komisi Eropa dan Dewan Eropa.
Pemerintah Spanyol juga menegaskan para migran yang masuk secara tidak sah ke Ceuta tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol maupun negara lain di kawasan Schengen.
Madrid membantah anggapan bahwa program legalisasi bagi lebih dari setengah juta migran tanpa dokumen menjadi pemicu lonjakan arus migran, karena program tersebut hanya berlaku bagi mereka yang telah tinggal di Spanyol sebelum 1 Januari 2026 dan memenuhi persyaratan masa tinggal yang telah ditetapkan.
BERITA TERKAIT: