Alih-alih menempati istana yang selama hampir dua abad menjadi simbol kekuasaan monarki Inggris, Charles bersama Ratu Camilla memilih tetap menetap di Clarence House, kediaman yang telah lama mereka tempati sejak masih menyandang gelar Pangeran dan Putri Wales.
Meski tidak akan tinggal di Buckingham Palace, pihak kerajaan menegaskan bahwa bangunan bersejarah itu tetap menjadi pusat kegiatan resmi dan operasional monarki Inggris, termasuk penyelenggaraan acara kenegaraan dan penerimaan tamu-tamu negara.
Pejabat senior kerajaan yang mengelola urusan keuangan Raja, James Chalmers, menekankan bahwa status Buckingham Palace sebagai jantung monarki tidak akan berubah.
“Gedung ini akan tetap menjadi Markas Besar Monarki, permata mahkota dari bangunan-bangunan nasional kita,” ujarnya, dikutip Jumat, 26 Juni 2026.
Renovasi Buckingham Palace telah berlangsung sejak 2017 untuk memperbarui sistem perpipaan, instalasi listrik, pemanas, serta berbagai fasilitas yang dinilai sudah usang.
Proyek yang dijadwalkan selesai pada 2027 itu dirancang agar istana tetap layak digunakan sebagai pusat monarki Inggris dalam setidaknya lima dekade ke depan.
Pilihan Charles untuk bertahan di Clarence House juga disebut membuka peluang lebih besar bagi publik untuk mengakses Buckingham Palace.
Pihak kerajaan berencana memperluas program kunjungan, penyelenggaraan acara, dan tur bagi masyarakat sehingga lebih banyak warga maupun wisatawan dapat menikmati bagian dalam istana yang selama ini menjadi ikon nasional Inggris.
Pengumuman tersebut datang di tengah upaya keluarga kerajaan memperkuat citra monarki yang modern dan transparan. Pada kesempatan yang sama, Charles menjadi raja Inggris pertama yang secara terbuka mengungkap jumlah pajak yang dibayarkannya.
Dalam tahun fiskal 2024-2025, Charles tercatat membayar pajak penghasilan dan keuntungan modal sebesar 12,9 juta poundsterling, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11,7 juta poundsterling.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: