Kini, di tengah rasa kecewa yang mendalam, manajer Thomas Tuchel meluapkan kritik tajamnya terkait agenda laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis.
Baginya, pertandingan ini merupakan kewajiban yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Tuchel secara blak-blakan mengungkapkan bahwa baik pemain Inggris maupun Prancis sama sekali tidak memiliki keinginan untuk tampil dalam laga tersebut.
"Mereka ingin bermain di final. Kami memberikan segalanya untuk mencapai itu," ujar Tuchel, menegaskan bahwa fokus utama para pemain adalah menjuarai turnamen, bukan sekadar melakoni laga pelipur lara.
Meskipun merasa frustrasi dengan jadwal yang padat dan minimnya waktu pemulihan, Tuchel menjamin skuadnya akan tetap menunjukkan profesionalisme tinggi.
Di balik kekecewaan atas tersingkirnya Inggris, Tuchel tetap teguh membela pencapaian timnya. Meski dahaga gelar juara sejak 1966 belum terhapuskan, ia menilai keberhasilan menembus semifinal adalah prestasi yang layak diapresiasi di tengah persaingan ketat.
Ia menyoroti bahwa banyak negara sepak bola besar lainnya justru gugur jauh sebelum mencapai babak empat besar.
Terkait kritik tajam atas keputusan taktisnya yang beralih ke formasi lima bek saat melawan Argentina, Tuchel menyatakan tidak memiliki penyesalan karena timnya telah bermain maksimal.
Menatap masa depan, Tuchel menegaskan komitmennya untuk tetap memimpin The Three Lions hingga Euro 2028. Laga melawan Prancis pun kini dipandang sebagai langkah awal bagi skuadnya untuk bangkit.
Meski berat, kemenangan dalam duel ini menjadi target utama demi memberikan sedikit penghiburan bagi Inggris sekaligus membuktikan semangat kompetitif tim sebelum pulang ke rumah.
BERITA TERKAIT: