Rubio menilai ajakan tersebut sebagai tindakan sembrono yang berpotensi memperburuk kondisi politik dan keamanan di Lebanon. Ia menyebut Hizbullah terus mengabaikan permintaan pemerintah Lebanon untuk menghentikan serangan serta mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
“Ini adalah kampanye yang disengaja untuk menggoyahkan stabilitas negara dan mempertahankan kekuasaannya dengan mengorbankan masa depan rakyat Lebanon,” kata Rubio dalam siaran pers resmi pemerintah AS pada Minggu, dikutip Senin, 25 Mei 2026.
Menurut Rubio, pemerintah Lebanon saat ini tengah berupaya memulihkan kondisi negara melalui rekonstruksi, dukungan bantuan internasional, dan pembangunan masa depan yang lebih stabil bagi rakyatnya dengan dukungan penuh dari AS. Namun, di sisi lain, Hizbullah disebut justru berusaha membawa Lebanon kembali ke dalam konflik dan kehancuran.
“Ancaman kekerasan dan upaya penggulingan kekuasaan oleh Hizbullah tidak akan dibiarkan berhasil. Era ketika kelompok teroris menyandera seluruh bangsa akan segera berakhir,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menyerukan rakyat untuk turun ke jalan dan menggulingkan pemerintahan Lebanon. Qassem juga menolak negosiasi langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel yang dimediasi AS, serta kembali menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan menyerahkan senjatanya.
BERITA TERKAIT: