Forum yang mempertemukan cendekiawan dan tokoh Indonesia-Malaysia ini diarahkan untuk mempererat persaudaraan kedua negara serumpun sekaligus membahas gagasan Negara Madani serta posisi peradaban Melayu-Islam di tengah perubahan tatanan dunia yang semakin multipolar.
Chairman CDCC Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mengatakan, penyelenggaraan MCM Malindo sejak awal tidak terlepas dari upaya mendukung, mengembangkan, sekaligus menyempurnakan gagasan Negara Madani.
“Awal mula lahirnya MCM Malindo adalah untuk mendukung, mengembangkan, dan menyempurnakan gagasan Negara Madani,” ujar Din dalam Konferensi Pers Madani Malindo II di Hotel Ambhara, Jakarta, dikutip Kamis, 13 Agustus 2026.
Din menjelaskan, gagasan Madani memiliki perjalanan intelektual yang panjang dan pernah mengemuka di Indonesia pada Festival Istiqlal 1995 dengan istilah “masyarakat Madani”.
“Gagasan Madani yang kini menjadi tagline politik Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pernah diungkapkan di Indonesia pada Festival Istiqlal tahun 1995 dengan istilah ‘masyarakat Madani’. Gagasan tersebut kemudian digunakan dan dikembangkan dalam diskursus para cendekiawan Muslim,” kata Din.
Steering Committee MCM Malindo Prof. Dr. R. Siti Zuhro mengatakan, persidangan kedua tidak hanya membahas Negara Madani pada tataran konseptual, tetapi juga menyusun rancang bangun dalam konteks Indonesia.
“Acara ini akan mengulas bentuk Negara Madani yang kita bayangkan dan akan menyusun rancang bangun Negara Madani dalam perspektif Negara Pancasila,” ujar Siti Zuhro.
Steering Committee MCM Malindo Dr. Agus Wicaksono menuturkan forum ini juga menjadi ruang untuk melihat posisi peradaban Melayu-Islam dalam tatanan global yang semakin multipolar.
“Kita ingin mencari posisi peradaban Melayu-Islam di era yang sangat multipolar. Pada saat yang sama, kita ingin menawarkan alternatif ideologi dunia melalui gagasan Negara Madani,” ujar Agus.
Persidangan akan diikuti 68 peserta dari Indonesia dan 40 peserta dari Malaysia, dengan agenda yang mencakup perspektif teologis, filosofis, historis, konteks negara modern, hingga kerangka strategis perwujudan Negara Madani.
BERITA TERKAIT: