Eks Penasihat Nuklir Iran: Operasi AS di Selat Hormuz Picu Risiko Perang Habis-Habisan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Rabu, 06 Mei 2026, 13:35 WIB
Eks Penasihat Nuklir Iran: Operasi AS di Selat Hormuz Picu Risiko Perang Habis-Habisan
Pakar Iran, Seyed Mohammed Marandi (Foto: Iran International)
rmol news logo Memanasnya kembali ketegangan di Selat Hormuz dinilai membawa kawasan Timur Tengah menuju fase paling berbahaya.

Profesor Universitas Teheran sekaligus mantan penasihat tim negosiasi nuklir Iran, Seyed Mohammed Marandi menilai operasi terbaru Amerika Serikat di jalur strategis tersebut justru membuka jalan menuju perang terbuka berskala penuh.

“Saya pikir, seperti yang terjadi saat ini, kita bergerak menuju perang habis-habisan. Pada dasarnya, yang terjadi adalah Amerika, entah karena alasan apa, memulai tahap baru dalam perang ini dengan mencoba melakukan operasi untuk mengeluarkan kapal-kapal dari Selat Hormuz, atau melalui Selat Hormuz, dan itu tidak berhasil,” ujar Marandi.

Menurutnya, Iran sejauh ini belum mengerahkan kekuatan militernya secara penuh. Teheran, kata Marandi, masih menggunakan sistem rudal lama sebagai bentuk peringatan strategis, bukan deklarasi perang total. 

“Rudal yang ditembakkan Iran ke kapal-kapal AS, untuk sementara waktu, adalah tembakan peringatan. Mereka tidak ingin memulai perang," ungkapnya.

Marandi juga menuduh operasi Washington justru menyasar kapal-kapal sipil, bukan target militer sebagaimana diklaim. 

“Yang mereka lakukan adalah menghancurkan kapal-kapal sipil. Mereka mengklaim telah menghancurkan kapal-kapal militer, tetapi tidak ada kapal militer. Iran tidak menggunakan kapal-kapal militernya dalam keadaan ini," kata Marandi.

Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa eskalasi di Selat Hormuz berpotensi melampaui konflik militer semata dan berubah menjadi krisis ekonomi global.

Menurutnya, lonjakan harga energi saat ini baru gejala awal sebelum gangguan rantai pasok internasional benar-benar terasa dalam skala luas. 

“Apa yang akan mulai kita lihat dalam beberapa hari ke depan adalah rantai pasokan mulai runtuh. Dan kemudian ekonomi global akan sangat terganggu," paparnya.

Marandi menilai dunia kini berada di ambang jurang, di mana gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memicu kehancuran pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia. 

Dalam situasi seperti itu, bukan hanya Amerika Serikat dan Iran yang menghadapi konsekuensi, tetapi seluruh ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas jalur energi tersebut.

“Tidak ada yang berubah. Kita berada di ambang perang,” pungkasnya.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA