Dalam pernyataannya, Al Mazroui menyebut keputusan tersebut sebagai keputusan nasional yang berdaulat yang didasarkan pada visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA. Ia menekankan bahwa langkah ini bukan keputusan mendadak, melainkan bagian dari rencana untuk menyesuaikan diri dengan perubahan besar di sektor energi global.
Al Mazroui juga mengingatkan bahwa UEA telah menjadi anggota OPEC selama puluhan tahun. Abu Dhabi pertama kali bergabung dengan organisasi itu pada 1967, bahkan sebelum berdirinya negara UEA pada 1971. Namun, menurutnya, kondisi dunia saat ini telah berubah dan kebutuhan energi global diperkirakan akan terus meningkat.
“Di masa depan, kita melihat bahwa dunia akan menuntut dan membutuhkan lebih banyak energi,” ujarnya, dikutip dari
The News, Rabu 29 April 2026.
Lebih lanjut, Al Mazroui menjelaskan bahwa keputusan ini diambil di tengah situasi pasar energi global yang tidak menentu. Banyak negara, kata dia, kini harus menggunakan cadangan strategis minyak dalam jumlah besar untuk menjaga pasokan.
“Kami mengambil keputusan ini pada saat konsumen membutuhkan perhatian kami; kami menghadapi masa yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana cadangan strategis produk minyak mentah terkuras hingga ke tingkat yang mengkhawatirkan,” jelasnya.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah pertemuan penting negara-negara Teluk yang berlangsung di Jeddah, ketika pasar energi dunia masih berada di bawah tekanan akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan, termasuk di jalur penting seperti Selat Hormuz.
BERITA TERKAIT: