Mengutip Aljazeera pada Senin 23 Maret 2026, serangan roket kedua Iran menghantam kota Arad di Israel selatan, yang meruntuhkan sejumlah bangunan dan melukai sedikitnya 64 orang.
Tim penyelamat dikabarkan masih mencari korban selamat yang terjebak di bawah reruntuhan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan situasi tersebut sebagai malam yang sangat sulit.
“Ini malam yang sangat sulit dalam pertempuran untuk masa depan negara kita. Doa kami untuk para korban luka agar segera pulih,” kata Netanyahu dalam keterangannya.
Sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang berada di lokasi kejadian, menegaskan bahwa Israel akan terus melanjutkan perlawanan hingga meraih kemenangan.
"Saya datang untuk memberi kekuatan. Saya datang untuk merangkul penduduk di sini. Saya datang untuk menguatkan mereka. Rakyat Israel, alhamdulillah, kuat. Mereka mencoba untuk menyakiti kita. Tetapi kita ingat satu hal. Kita sedang berperang. Ini adalah perang di mana kita harus terus menghancurkan untuk meraih kemenangan," ujarnya.
Meningkatnya serangan terhadap infrastruktur dan kawasan permukiman sipil memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
BERITA TERKAIT: