Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Hakam Naja menjelaskan, Selat Hormuz merupakan titik sempit (choke point) di Teluk Persia yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak.
"Ini akan meningkatkan tensi dan eskalasi serta dampak perang tidak hanya di Timur Tengah tapi juga di seluruh dunia, mengingat sekitar 20 persen suplai minyak dunia melewati Selat Hormuz," ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurutnya, Indonesia mesti waspada dengan harga minyak yang terus melonjak menjadi 92 Dolar AS per barel. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020.
"Padahal dalam asumsi makro APBN 2026 harga minyak pada kisaran 70 Dolar AS per barel," sambungnya.
Hakam memperkirakan, kenaikan 1 Dolar AS per barel minyak akan menaikkan defisit APBN hingga sebesar Rp6,8 triliun.
"Kenaikan harga minyak pada angka mendekati 100 Dolar AS per barel ini bisa mendongkrak defisit APBN terhadap PDB (produk domestik bruto) mendekati 4 persen," urainya.
"Ini melampaui angka 3 persen yang dipatok oleh UU 17/2003 tentang Keuangan Negara," tutup Hakam.
BERITA TERKAIT: