Wine mengatakan penggerebekan terjadi pada malam hari ketika pasukan keamanan secara paksa masuk ke rumahnya dengan merusak pintu dan memukuli staf rumah tangga.
Saat kejadian, Wine tidak berada di lokasi dan disebut tengah bersembunyi setelah lolos dari penggerebekan sebelumnya, beberapa jam sebelum ia diumumkan sebagai runner-up dalam pemilihan presiden 15 Januari lalu.
“Mereka merampas ponsel istri saya, memaksanya duduk, dan memerintahkannya membuka kata sandi. Ia menolak. Mereka kemudian mencekiknya dan menghina dia,” kata Bobi Wine dalam unggahan di platform X, seperti dikutip dari
Reuters, Minggu, 25 Januari 2026.
Wine juga menuduh para tentara tersebut menelanjangi sebagian pakaian istrinya dan mengambil foto-foto sebelum akhirnya Barbara Kyagulanyi dilarikan ke rumah sakit.
“Mereka memaksa melepas blusnya dan mengambil gambar istri saya dilarikan ke rumah sakit dan hingga kini masih dirawat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, juru bicara militer Uganda Chris Magezi belum dapat dimintai keterangan.
Sementara itu, Kepala Militer Uganda, Muhoozi Kainerugaba yang juga merupakan putra Presiden Yoweri Museveni menuntut agar Bobi Wine menyerahkan diri kepada polisi.
Ia bahkan mengancam akan memperlakukan Wine sebagai pemberontak.
Pada Jumat sebelumnya, 23 Januari 2026, Kainerugaba mengklaim bahwa aparat telah menewaskan 30 pendukung Partai National Unity Platform (NUP) dan menahan sekitar 2.000 orang lainnya.
Bobi Wine sendiri hingga kini belum dituduh melakukan tindak pidana apa pun.
Presiden Yoweri Museveni, yang telah berkuasa selama empat dekade, dinyatakan memenangkan pemilu dengan perolehan 71,6 persen suara, sementara Bobi Wine memperoleh 24 persen.
Namun, Wine menolak hasil tersebut dan menuding terjadi kecurangan masif, termasuk penggelembungan suara.
Selain kekerasan fisik, Wine menambahkan bahwa sejumlah uang, dokumen, dan perangkat elektronik juga hilang dalam penggerebekan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya atas penangkapan dan kekerasan yang menimpa tokoh oposisi serta para pendukung mereka di Uganda.
Selama bertahun-tahun, kelompok HAM dan oposisi menuduh Presiden Museveni menggunakan militer untuk mempertahankan kekuasaannya.
Namun, pejabat partai berkuasa membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa panjangnya masa pemerintahan Museveni merupakan cerminan dukungan rakyat.
BERITA TERKAIT: