Itu juga berarti secara bertahap mereka bisa memulai ekspor produk makanan yang berbeda melalui koridor biji-bijian tersebut, lapor Xinhua.
“Keduanya membahas secara rinci perluasan kerja sama bilateral di berbagai bidang, secara khusus, rekor pertumbuhan omzet perdagangan juga menjadi fokus kedua kepimpin," isi pernyataan Kremlin.
"Kesepakatan itu bersifat kompleks, yang membutuhkan penghapusan hambatan pasokan yang relevan dari Rusia untuk memenuhi permintaan negara-negara yang paling membutuhkan," katanya.
Rusia dan Ukraina menandatangani Perjanjian Laut Hitam pada 22 Juli di Istambul, yang dimediasi oleh Turki dan PBB. Perjanjian itu memastikan pasokan biji-bijian dan pupuk ke pasar global di tengah konflik Rusia-Ukraina.
Rusia telah mendesak PBB untuk mendorong Barat mencabut beberapa sanksi, untuk memastikan Moskow dapat mengekspor pupuk dan produk pertaniannya secara bebas - bagian dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam yang menurut Moskow belum dilaksanakan.
Ankara menjanjikan akan melakukan upaya untuk membuka jalan bagi dimulainya kembali ekspor biji-bijian dan pupuk Rusia ke pasar dunia.
Erdogan dan Putin juga membahas proposal Rusia untuk membuat pangkalan di Turki untuk ekspor gas alam Rusia.
Putin menyarankan gagasan itu pada bulan Oktober sebagai sarana untuk mengalihkan pasokan dari pipa Nord Stream Rusia ke Eropa, yang rusak akibat ledakan pada bulan September. Erdogan telah mendukung konsep tersebut.
Selain topik-topik tersebut, perang melawan terorisme di sepanjang perbatasan Turki-Suriah juga menjadi bahasan dalam percakapan keduanya.
Putin dan Erdogan menyebutkan masalah penyelesaian Suriah dalam konteks kepatuhan terhadap ketentuan nota kesepahaman Rusia-Turki yang ditandatangani pada 2019.
“Lembaga pertahanan dan politik luar negeri kedua negara akan mendukung hubungan dekat dalam hal ini, " kata Kremlin.
BERITA TERKAIT: