"Pemerintah perlu mengatasi krisis keuangan dan bekerja untuk memperbaiki tata kelola, atau kami akan melakukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah," kata pemimpin partai oposisi Samagi Jana Balawegaya, Sajith Premadasa, di parlemen pada Jumat (8/4).
Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi parah akibat utang yang melambung sementara bahan pokok naik dan minyak menjadi langka.
"Sangat penting bahwa Sri Lanka harus menghindari default utang yang tidak teratur. Pemerintah harus bekerja untuk menangguhkan utang dan menunjuk penasihat keuangan untuk memulai proses restrukturisasi utang," jelas Premadasa.
Krisis ekonomi di Sri Lanka telah memicu aksi protes tanpa henti selama sebulan terakhir, dengan kerusuhan pecah pada 31 Maret.
Presiden Gotabaya Rajapaksa menjalankan pemerintahannya dengan hanya segelintir menteri setelah seluruh kabinetnya mengundurkan diri minggu ini. Sementara oposisi dan bahkan beberapa mitra koalisi menolak seruannya untuk membentuk pemerintah persatuan.
Setidaknya 41 anggota parlemen telah keluar dari koalisi yang berkuasa untuk menjadi independen, meskipun pemerintah mengatakan masih memiliki mayoritas di parlemen. Jika mosi tidak percaya diajukan dan memenuhi suara, maka Rajapaksa harus siap digulingkan.
BERITA TERKAIT: