Itu yang diyakini oleh pendiri Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) Kim Il Sung.
Salah satu kekuatan rakyat yang sangat terasa bagi Kim Il Sung adalah ketika ia melakukan perjuangan bersenjata anti-Jepang di pangkalan gerilya di sepanjang Sungai Tuman, sisi timur laut China.
Ketika itu, pada tahun 1934, Jepang mengerahkan 5.000 tentara, senjata, dan bahkan pesawatnya ke Xiaowangqing. Di sisi lain, jumlah gerilyawan yang mempertahankan pangkalan lebih kecil hanya 1 persen dari jumlah musuh, dengan hanya bersenjatakan senapan ringan.
Namun orang-orang di sekitar memiliki cara merek untuk membantu Kim Il Sung mempertahankan pangkalan. Mereka berjuang mati-matian melawan pasukan Jepang.
Alhasil, dengan ajaib, perjuangan rakyat bersama tentara membawa kemenangan dalam pertempuran.
Hal itu menyadarkan Kim Il Sung tentang besarnya kekuatan rakyat, sehingga ia membuat rencana untuk mengumpulkan seluruh rakyat dalam serangan terakhir melawan imperialisme Jepang.
Menurut rencana, perlawanan seluruh rakyat akan dilancarkan sejalan dengan serangan umum Tentara Revolusi Rakyat Korea. Kemenangan dalam Perang Korea (1950-1953) di mana RRDK memukul mundur agresi pasukan sekutu imperialis bisa disebut keajaiban yang diciptakannya dengan mengerahkan kekuatan rakyat.
Kekuatan tak habis-habisnya rakyat yang bersatu padu di sekitar Kim Il Sung. Bahkan dalam waktu singkat, 14 tahun, kekuatan rakyat mewujudkan industrialisasi, mengubah RRDK menjadi negarasosialis yang kuat, mandiri, dan mandiri dalam pertahanan.
Bagi Kim Il Sung, rakyat adalah yang paling suci. Sehingga aspirasi rakyat selalu ia dengar.
Seperti ketika setelah perang, seorang lelaki tua menulis surat kepadanya. Surat itu menyebut sejak zaman kuno Pyongyang telah disebut Ryugyong dalam arti bahwa itu adalah kota pohon willow. Setelah membaca surat itu, Kim Il Sung mengambil tindakan menanam sejumlah besar pohon willow di jalan-jalan Pyongyang.
Tak lama setelah Korea dibebaskan, hanya ada beberapa pabrik baja yang beroperasi. Meski begitu, Kim Il Sung tetap memerintahkan untuk menghentikan produksi salah satu pabrik baja karena berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan pekerja.
Untuk mengatasi masalah makanan bagi masyarakat, dia tidak keberatan melihat-lihat daerah pasang surut di sepanjang jalan berlumpur atau mengunjungi desa-desa pegunungan yang terpencil.
Dikutip dari keterangan yang diterima redaksi, semua kebijakan negara di RRDK, termasuk perawatan kesehatan gratis universal, sistem pendidikan wajib, sistem penyembuhan dan relaksasi, dan penyediaan rumah tinggal gratis bagi orang-orang, adalah buah dari cita-cita politik Kim Il Sung.
BERITA TERKAIT: