Dalam pertemuan yang berlangsung hangat itu, Djauhari menegaskan pentingnya kehadiran langsung perwakilan Indonesia untuk menyapa dan mendengar langsung kondisi WNI di luar Beijing.
“Saya ingin KBRI tidak hanya menunggu di Beijing. Saya ingin ada kehadiran langsung, menyapa, dan mendengar cerita,” kata Djauhari dalam siaran persnya, Senin, 9 Maret 2026.
Sebagian besar peserta yang hadir merupakan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi di Changsha. Dalam kesempatan tersebut, Djauhari juga mengingatkan pentingnya bagi WNI di luar negeri untuk melakukan lapor diri melalui Portal Peduli WNI.
“Sekarang caranya sangat mudah, cukup melalui Portal Peduli WNI secara
online, kapan saja dan dari mana saja,” ujarnya.
Acara silaturahmi itu juga menjadi momen perkenalan Wakil Duta Besar RI di Beijing, Irene Umar kepada masyarakat Indonesia di Changsha.
Menurut Irene, diplomasi tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga menjaga komunikasi dengan warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.
Ia juga menilai keberadaan masyarakat Indonesia di Tiongkok menjadi jembatan persahabatan antarbangsa melalui berbagai aktivitas, baik belajar, bekerja, maupun berwirausaha.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama Ramadan itu turut menghadirkan layanan konsuler dan imigrasi bagi WNI di Changsha. Sebelumnya, untuk memperoleh layanan tersebut mereka harus menempuh perjalanan sekitar 1.500 kilometer ke Beijing.
Sejumlah WNI memanfaatkan layanan pencatatan biometrik untuk pembuatan paspor baru yang dilakukan tim Atase Imigrasi KBRI Beijing.
Pertemuan ditutup dengan seluruh peserta menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” yang dipimpin langsung oleh Dubes Djauhari, sebagai simbol kebersamaan masyarakat Indonesia di perantauan.
BERITA TERKAIT: