Presiden Belarusia Aleksander Lukashenko mengatakan bahwa Rusia dan Belarusia sesungguhnya tidak menginginkan perang. Penumpukan pasukan dan latihan militer bersama yang dilakukan Rusia dan Belarusia belakangan ini bukan ditujukan kepada pihak manapun.
"Tetapi jika seseorang menginginkan perang (terhadap kami), maka tanggapan kami akan asimetris," kata Lukashenko dalam konferenski persnya setelah melakukan kunjungan ke Kremlin, Jumat (18/2).
Lukashenko mengisahkan bahwa ia menemui Presiden Vladimir Putin untuk membicarakan berbagai masalah, utamanya tentang kemungkinan tindakan Rusia-Belarusia terhadap sikap Barat yang ia sebut sebagai "perilaku agresif".
"Kami bertemu pada saat ketegangan militer-politik meningkat dengan cepat, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia. Mengingat mendesaknya situasi, Presiden Putin dan saya membahas kemungkinan tindakan kami," katanya seperti dikutip dari
Belva. “Saya ingin tegaskan lagi: tidak ada yang menginginkan bahkan eskalasi situasi, atau konflik apa pun. Baik Rusia maupun Belarusia tidak membutuhkannya."
Lukashenko menegaskan, saat ini eskalasi tidak tergantung pada Ukraina. Konflik yang terjadi di perbatasan Rusia-Ukraina bahkan bisa melibatkan banyak negara.
“Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, kami berada di ambang konflik yang dapat melibatkan seluruh benua,†katanya.
"Maafkan keterusterangan saya, ini kegilaan sejumlah politisi Barat! Tindakan negara-negara tetangga yang menentang logika," tegas Lukashenko.
Menambahkan bahwa situasi terbaru di Donbass sangat memprihatinkan di mana penduduk bersiap-siap untuk evakuasi setelah dibombardir tembakan.
BERITA TERKAIT: