Lukashenko Menyatakan Kesediaannya Berbicara dengan Merkel Terkait Krisis Migran

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 18 November 2021, 12:12 WIB
Lukashenko Menyatakan Kesediaannya Berbicara dengan Merkel Terkait Krisis Migran
Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko/Net
rmol news logo Krisis migran di perbatasan Belarusia mendorong Jerman untuk segera melakukan dialog dengan Belarusia.

Kantor kepresidenan Belarus mengkonfirmasi bahwa Presiden Aleksander Lukashenko telsh setuju untuk membuka peluang dialog dengan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk membahas krisis migrasi di perbatasannya bersama Uni Eropa.

"Kanselir Merkel akan berbicara dengan Tuan Lukashenko. Dia menekankan perlunya penyelesaian krisis bersama dengan dukungan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dan kerja sama Komisi Eropa, untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan fasilitas repatriasi kepada orang-orang yang terkena dampak,” tulis juru bicara kanselir dalam postingan Twitter, Rabu (17/11).

Merkel dan Lukashenko telah melakukan percakapan telepon sebelumnya pada minggu ini yang dikatakan oleh juru bicara pemerintah Polandia Piotr Mueller sebagai "bukan langkah yang baik", seperti dilaporkan AFP.

Ribuan migran, kebanyakan dari Timur Tengah, berbondong-bondong mencari suaka ke Eropa melalui rute Belarusia.

Mereka kemudian berkemah di perbatasan Polandia-Belarusia, menciptakan krisis migran yang disebut-sebut bia melahirkan ancaman keamanan di antara negara-negara tetangga, yang disebut Barat sebagai balas dendam Lukashenko atas sanksi yang dijatuhkan pada rezimnya setelah penindasan brutal terhadap protes terhadap pemerintahannya.
Sejauh ini negara-negaar Eropa dan Amerika Serikat menyalahkan Belarusia, dan bahkan mengaitkan Rusia. Lukashenko dan sekutu utamanya, Vladimir Putin, telah menolak tuduhan itu dan mengkritik Uni Eropa karena tidak menerima para migran yang ingin menyeberang ke Polandia.

Lukashenko, yang sering disebut sebagai "diktator terakhir Eropa", sampai saat ini tidak diakui sebagai presiden sah Belarusia. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA