Hasilnya menunjukkan Fujimori memperoleh 50,3 persen suara, sementara Castillo hanya mengumpulkan 49,7 persen suara.
Di tengah gempita pilpres, negara ini menghadapi pilihan antara dua tokoh ekstrem: neoliberal Fujimori (46) yang putri mantan Presiden Alberto Fujimori yang saat ini menghadapi vonis 30 tahun penjara atas tuduhan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia, melawan Pedro Castillo (51) seorang guru sekolah aktivis serikat pekerja.
Castillo mengejutkan orang Peru ketika dia memenangkan putaran pertama pada bulan April lalu, Di mana dia memenangkan hampir 19 persen suara diikuti oleh Fujimori, dengan 13,4 persen - hasil yang akhirnya memaksa pemilihan putaran kedua hari Minggu (6/6).
Hasil hitung cepat pada Minggu ternyata berbandung terbalik dengan prediksi sehari sebelum pemilihan. Castillo sedikit memimpin jajak pendapat dengan 51,1 persen, sementara Fujimori tertinggal di belakang dengan 48,9 persen.
Selama kampanye, kandidat partai Fuerza Popular Fujimori menerima dukungan dari tokoh-tokoh penting di negara itu, termasuk pemenang Hadiah Nobel, Mario Vargas Llosa.
Setelah mengetahui hasil jajak pendapat awal, Castillo menyerukan agar pendukungnya tetap tenang.
“Apa yang kami dengar bukanlah sesuatu yang resmi,†katanya, setelah memanggil para pendukungnya ke jalan-jalan, seperti dikutip dari
AFP, Senin (7/6).
"Saya menyerukan kepada orang-orang Peru dari seluruh pelosok negara untuk turun ke jalan dengan damai untuk waspada dalam membela demokrasi," tulis Castillo di Twitter.
Ketidakpastian politik telah mencengkeram negara Amerika Selatan ini dalam beberapa tahun terakhir. Selama periode lima tahun, negara ini telah diperintah oleh empat presiden. Pada November 2020, negara itu bahkan dipimpin oleh tiga presiden dalam waktu seminggu.
Peru juga menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
Peru melipatgandakan lebih dari dua kali lipat jumlah kematian akibat Covid-19 setelah merevisi angka resminya pekan lalu, menjadikannya negara dengan jumlah korban resmi terburuk di dunia, menurut data dari Universitas Johns Hopkins yang berbasis di AS.
Korban tewas meningkat menjadi lebih dari 180.000, naik dari 69.342, di negara berpenduduk lebih dari 33 juta orang. Sekarang telah mendaftarkan hampir dua juta infeksi dan lebih dari 186.000 kematian.
Presiden baru akan mulai menjabat pada 28 Juli mendatang.
BERITA TERKAIT: