Dokumen tersebut diunggah oleh mantan analis militer Daniel Ellsberg dan dilaporkan pertama kali oleh
New York Times, seperti dikutip
South China Morning Post, Sabtu (22/5).
Dalam dokumen tersebut dijelaskan, jika China melakukan invasi ke Taiwan, maka Ketua Kepala Staf Gabungan ketika itu, Jenderal Nathan Twining mengatakan AS akan menggunakan senjata nuklir yang ditujukan ke pangkalan udara China.
"Jika ini tidak menghentikan invasi, maka tidak ada alternatif lain selain melakukan serangan nuklir jauh ke China hingga ke Shanghai," lanjut dokumen tersebut.
Ellsberg mengatakan, ketika itu para pejabat AS berasumsi bahwa Uni Soviet akan membantu China dan membalas dengan senjata nuklir.
Namun pada saat itu, Presiden AS Dwight D. Eisenhower memutuskan untuk mengandalkan senjata konvensional.
Ketegangan pada 1958 sendiri berakhir ketika Partai Komunis China menghentikan serangan artileri ke pulau-pulau yang dikuasai Taiwan.
Washington telah mengakui Beijing sejak 1979, tetapi mempertahankan hubungan dekat dengan Taipei dan menjadi sekutu militer terpentingnya.
Selain dokumen terkait kemungkinan serangan nuklir AS ke China, Ellsberg juga pernah membocorkan dokumen "Pentagon Papers" lainnya pada 1971 terkait studi rahasia AS terkait Perang Vietnam.
Selama ini, China menganggap Taiwan sebagai provinsi pemberontak yang suatu hari akan kembali ke daratan, dengan kekerasan jika perlu. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir angkatan udara China telah meningkatkan serangan ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.
Untuk melindungi Taiwan, AS sering melakukan operasi kebebasan navigasi di perairan Selat Taiwan yang memicu ketegangan dengan China.
BERITA TERKAIT: