Direktur Jenderal Pusat Biomedis Rwanda Sabin Nsanzimana mengatakan jumlah vaksinasi di Rwanda saat ini masih rendah.
Dalam rencananya, Rwanda berniat memvaksinasi 30 persen populasi pada akhir 2021 dan 60 persen pada akhir 2022. Hingga Selasa (18/5) baru sekitar 350.400 orang yang telah menerima suntikan, mewakili hanya 5 persen dari total populasi.
Nsanzimana mengatakan 500.000 dosis vaksin yang diperoleh Rwanda dari India belum tiba, menyusul krisis kesehatan di negara itu yang kemudian memengaruhi pasokan vaksin ke negara-negara berkembang.
Namun, dia berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa negara sedang berupaya mendapatkan vaksin dari tempat lain yang dapat dikirimkan segera, seperti dikutip dari
Anadolu Agency, Rabu (19/5).
Negara Afrika Timur itu mencatat 26.344 kasus Covid-19, 24.808 pemulihan dan 346 kematian pada Selasa (18/5) waktu setempat.
Rwanda menerima pengiriman pertama 240.000 dosis vaksin AstraZeneca-Oxford dan 102.960 dosis vaksin Pfizer pada bulan Maret dari fasilitas COVAX yang diinisiasi WHO.
Setelah itu, pemerintah meluncurkan vaksinasi nasional untuk kelompok berisiko yang diidentifikasi sebagai prioritas pada awal Maret, mereka termasuk tenaga kesehatan, pekerja garis depan dan mereka yang berusia lebih dari 65 tahun atau dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya.
Mereka kemudian memperpanjang kelayakan, termasuk mereka yang berusia lebih dari 60 tahun, personel keamanan, pedagang pasar, dan pengemudi angkutan umum.
BERITA TERKAIT: