Aksi Protes Orang orang Myanmar, Angkat Tiga Jari Anti-Militer

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 06 Februari 2021, 07:50 WIB
Aksi Protes Orang orang Myanmar, Angkat Tiga Jari Anti-Militer
Aksi protes di Myanmar, orang-orang angkat tiga jari tunjukkan anti-militer/Net
rmol news logo Aksi protes di Myanmar menyebar ke penjuru negeri. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat  semakin berani bersuara. Mereka menolak kembali kepada kediktatoran militer.

Jumat (5/2) malam, Kota Yangon bergema. Itu adalah malam keempat orang-orang turun ke jalan dalam kampanye pembangkangan sipil.

Yel-yel protes terdengar bersahutan dengan suara pukulan panci dan alat rumah tangga lain, klakson mobil dan terompet. Balkon-balkon rumah terlihat semarak. Mereka keluar dan berteriak menyerukan protes keras pada junta militer yang sekarang menjalankan Myanmar.

Sebelumnya, pada Jumat siang, petugas medis dari puluhan rumah sakit juga menunjukkan aksi protes. Mereka menolak untuk bekerja.  Guru, siswa, dan kelompok pemuda, semua bersatu turun ke jalan.

Media sosial diramaikan dengan aksi protes warga Myanmar. Dalam foto-foto yang dibagikan secara online, pengunjuk rasa mengenakan pita merah untuk menunjukkan dukungan kepada Aung San Suu Kyi , yang menghabiskan 15 tahun dalam penahanan untuk berkampanye melawan kekuasaan militer.

Meskipun secara internasional dia telah dikutuk karena perlakuannya terhadap Rohingya, di dalam negeri dia adalah simbol demokrasi.
Rakyat yang protes mengangkat tangan dengan tiga jari tanda hormat terhadap demokrasi. Itu adalah simbol gerakan anti-militer yang digunakan oleh demonstran pro-demokrasi di negara tetangga Thailand.

"Orang-orang telah dirampok oleh militer," kata seorang warga, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (5/2).

"Saya tidak ingin melihat ke belakang suatu hari dan berpikir bahwa segala sesuatunya tidak berubah karena saya tidak membantu membawa perubahan,” kata seorang mahasiswa yang ikut aksi protes.

Banyak orang mempertanyakan mengapa Min Aung Hlaing memutuskan untuk merebut kekuasaan. Di bawah konstitusi ia mempertahankan kendali atas kementerian-kementerian utama dan dijamin seperempat kursi parlemen.

Richard Horsey, seorang analis politik independen yang berbasis di Myanmar. mengatakan, militer sudah sangat kuat sebelum kudeta, tetapi, “Ini jelas bukan untuk kepentingan jangka panjang negara atau Tatmadaw [angkatan bersenjata],” katanya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA