Penutupan kembali yang telah dimulai pada Selasa (1/9) itu telah menyebabkan toko-toko menutup usaha mereka, jalanan kembali sepi, mengingatkan pada masa awal pandemik di negara itu. Penutupan itu termasuk penerapan kembali aturan jam malam yang berlaku mulai pukul 7 malam hingga 5 pagi, larangan berbelanja di luar lingkungan seseorang dan batasan perjalanan masuk dan keluar kota.
Dengan kembali diberlakukannya pembatasan membuat penduduk Havana mau tidak mau harus membeli persediaan makanan selama mereka tinggal di rumah. Sebuah situasi yang sulit di kota yang sering dilanda berbagai kekurangan tersebut.
“Pekerjaan harian saya tidak memberi saya kesempatan untuk mendapatkan persediaan yang saya butuhkan untuk tinggal dirumah. Ini sangat sulit,†kata salah seorang penduduk Havana, Julio Odelin, seperti dikutip dari
AFP, Rabu (2/9).
Seperti diketahui Kuba telah memenangkan pujian atas keberhasilannya mengendalikan pandemik Covid-19, dengan sistem perawatan kesehatan publiknya yang luas dan dimobilisasi untuk melacak serta mengisolasi warga yang terinfeksi dengan cepat.
Negara dengan 11 juta orang penduduk itu telah melaporkan lebih dari 4.000 kasus dan 95 kematian akibat Covid-19, salah satu tingkat terendah di wilayah tersebut.
Tetapi jumlah kasus yang telah pulih di ibu kota setelah pelonggaran pembatasan pada Juli, kembali meningkat menjadi lusinan kasus per-hari selama sebulan terakhir. Para pejabat kesehatan menyalahkan warga yang gagal menghormati aturan jarak sosial dan tindakan kesehatan lainnya.
Sebagai tanggapan, pemerintah telah menetapkan peraturan kepada siapa pun yang berani melanggar aturan penguncian baru dengan hukuman berat berupa denda sebesar 125 dolar, atau lebih dari tiga kali lipat gaji bulanan rata-rata di negara tersebut.
BERITA TERKAIT: