Menurut FiveThirtyEight, ada 12 negara bagian yang menjadi
swing states ketika pemilu 2016 lalu. Di antaranya adalah Colorado, Florida, Iowa, Michigan, Minnesota, Nevada, New Hampshire, North Carolina, Ohio, Pennsylvania, Virginia, dan Wisconsin.
Salah satu strategi yang digunakan Biden adalah dengan menyimpan para pendukungnya dari mantan politisi Partai Republik untuk berada di garda depan.
Misalnya dengan memberikan kesempatan pidato kepada ratusan mantan staf George W. Bush, John McCain, dan Mitt Romney ketika Konvensi Nasional Partai Demokrat (DNC). Bahkan, mereka diberika waktu saat
prime-time.
Kendati begitu, apakah strategi Biden benar-benar berhasil menggalang suara dari
swing state?
Dari laporan
AFP yang dilansir pada Minggu (30/8), banyak pemilih di
swing states yang terbantu namun beberapa lainnya justru lebih dilema dengan situasi tersebut. Walaupun banyak dari mereka yang lebih memilih Biden.
Misalnya seorang warga Wisconsin berusia 50 tahun bernama Kari Walker. Selama dua dekade terakhir, Walker sudah memillih kandidat Republik, namun untuk tahun ini ia berencana memilih Biden.
Alasannya, ia mengatakan tidak dapat memaksakan diri untuk memillih Trump sebagai seorang presiden yang buruk. Dengan adanya mantan politisi Republik yang mendukung Biden, ia merasa lebih yakin memberikan suaranya pada mantan Wakil Presiden AS tersebut.
"Saya menemukan dukungan pendukung Partai Republik bersifat persuasif," ujar Walker, yang bersama suaminya memiliki kedai minuman di kota kecil Reedsburg. Itu adalah daerah yang mendukung Trump pada 2016 setelah dua kali memberikan suara untuk Demokrat, Barack Obama.
"Saya akan memberikan suara untuk Biden, tapi saya menghargai influencer GOP yang menyeberang," sambungnya.
Walker adalah tipe pemilih yang diharapkan bisa dipikat oleh kampanye Biden.
Namun, Trump tampaknya mendapat manfaat dari peralihan partai tersebut. Berbagai kritikan yang diberikan oleh para mantan politisi Republik tersebut tampak menunjukkan tidak konsistennya mereka.
Seorang jurnalis
Washington Post, Glenn Kessle, mengungkapkan keterkejutannya atas pesan tersebut.
"Saya secara pribadi mengenal sejumlah orang ini dan betapa konservatifnya mereka dalam banyak masalah. Saya tidak pernah membayangkan mereka akan secara terbuka mendukung seorang Demokrat," ujarnya.
Menurut seorang analis politik Universitas Virginia, Kyle Kondik mengatakan, pembelot dari partai Republik tersebut masih belum bisa meyakinkan penggalangan dukungan untuk Biden.
"Partai Republik yang murtad ini adalah simbol dari banyak mantan pemilih Partai Republik yang terkonsentrasi di daerah pinggiran kota yang makmur, berkembang, dan berpendidikan tinggi yang telah meninggalkan Partai Republik di era Trump," ujar Kondik.
"Meskipun demikian, saya tidak tahu apakah dukungan ini benar-benar mengeluarkan pemilih baru dari kubu Trump," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: