Pengumuman tersebut disampaikan oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Mali, Ismael Wague melalui siaran televisi pemerintah pada Rabu (19/8), melansir
Arab News.
"Komite Nasional untuk Penyelamatan Rakyat (CNSP) memutuskan untuk bertanggung jawab di depan rakyat dan sejarah," tegasnya.
Pengumuman tersebut datang setelah Presiden Ibrahim Boubacar Keita yang dalam penahanan tentara pemberontak tersebut mengundurkan diri melalui pidato singkat yang disiarkan di televisi.
"Jadi hari ini, elemen tertentu dari angkatan bersenjata kita ingin ini diakhiri melalui intervensi mereka, apakah saya benar-benar punya pilihan?" ujar Keita pada Selasa (18/8), seperti dikutip
Reuters.
Sehari sebelumnya, para tentara pemberontak menahan Keita bersama dengan Perdana Menteri Beoubou Cisse serta anggota kabinet lainnya. Mereka dibawa ke kamp militer Kati yang terletak 15 km barat laut dari ibukota Bamako pada Senin (17/8) pukul 16.30 waktu setempat.
Penahanan Keita dan para pejabat tinggi pemerintah tersebut mengikuti aksi protes atas skandal korupsi dan buruknya keamanan Mali.
Sejumlah negara dan PBB mengutuk aksi penahanan Keita. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada Selasa menuntut pembebasan segera Keita dan seluruh anggota kabinetnya.
BERITA TERKAIT: