Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Menteri Kepresidenan Somaliland, Khadar Hussein Abdi dalam sebuah pernyataan kepada
AFP, seperti dikutip Minggu, 22 Februari 2026.
“Kami bersedia memberikan akses eksklusif (ke mineral kami) kepada Amerika Serikat. Selain itu, kami terbuka untuk menawarkan pangkalan militer kepada Amerika Serikat,” ujarnya.
Langkah tersebut merupakan bagian dari lobi intensif Hargeisa ke Washington. Wilayah yang memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 itu berupaya meyakinkan AS bahwa posisinya yang strategis di pintu masuk Laut Merah serta potensi sumber daya mineralnya dapat menjadi aset penting bagi kepentingan geopolitik Amerika.
Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, sebelumnya mengungkapkan pihaknya tengah menjalin komunikasi aktif dengan Kedutaan Besar AS di Somalia dan Departemen Pertahanan AS.
“Pembicaraan dengan Kedutaan Besar AS di Somalia dan Departemen Pertahanan bertujuan untuk mengamankan kemitraan baru dengan Washington, termasuk dalam hal kerja sama ekonomi, keamanan, dan kontra-terorisme,” ungkapnya, seperti dikutip dari
African News, 20 Juli 2025.
Menurut Abdullahi, sejumlah pejabat militer AS, termasuk perwira paling senior untuk kawasan Tanduk Afrika, baru-baru ini mengunjungi Hargeisa.
Somaliland, yang dihuni sekitar lima juta penduduk, dikenal relatif stabil dan rutin menggelar pemilu demokratis.
Namun hingga kini baru Israel yang memberikan pengakuan resmi atas kemerdekaannya. Amerika Serikat sendiri masih mengakui klaim kedaulatan Somalia atas wilayah tersebut.
BERITA TERKAIT: