Para ahli mengatakan, sistem rumah sakit utama Eropa yang diakui kehebatannya pun ternyata tidak bisa menangani wabah karena kurangnya pengalaman dalam hal mengatasi epidemi.
Padahal, sebelum pandemik corona, dunia sudah mengalami berbagai pandemik lainnya, termasuk Flu Spanyol.
"Ketika anda menderita kanker, anda ingin berada di rumah sakit Eropa. Tapi Eropa belum memiliki wabah besar dalam lebih dari 100 tahun, dan sekarang mereka tidak tahu harus berbuat apa," ujar Kepala Operasi Covid-19 di Belgia, Brice De le Vingne seperti dimuat
AP.
Menurut De le Vingne, pendekatan Eropa untuk memerangi corona pada awalnya terlalu lemah dan kurang. Itu adalah kesalahan yang sangat fatal yang membuat Eropa saat ini menjadi pusat penyebaran virus di dunia.
Di Italia, pasien yang telah dinyatakan positif corona pada awalnya hanya melakukan karantina mandiri dan dicek secara berkala menggunakan panggilan telepon.
Hal yang sama juga terjadi Amerika Serikat hingga akhirnya negeri Paman Sam tersebut menjadi negara paling terinfeksi di dunia.
Spanyol dan Inggris juga pada awalnya tidak gencar melakukan tracing terhadap siapa saja yang berpontensi terinfeksi.
Pada akhirnya, pandemik corona telah menyibak sebuah fakta di mana terdapat masalah dalam sistem kesehatan negara-negara maju.
Setidaknya itu yang digambarkan oleh para dokter di Bergamo, episentrum corona di Italia dalam sebuah artikel di jurnal NEJM Catalyst Innovations in Care Delivery .
"Sistem kesehatan Barat telah dibangun di sekitar konsep perawatan yang berpusat pada pasien, tetapi epidemi membutuhkan perubahan perspektif terhadap perawatan yang berpusat pada masyarakat," catat mereka.
Dalam hal konsep tersebut, mereka mengungkapkan, rumah sakit-rumah sakit dengan model kesehatan masyarakat berada di Afrika dan sebagian Asia yang kerap memiliki jumlah pasien yang lebih banyak.
BERITA TERKAIT: