Demikian dikatakan analis konflik dan konsultan keamanan, Alto Labetubun saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku "Di Tepi Amu Darya" karya Pemimpin Umum RMOL Network, Teguh Santosa, di Media Center DPR RI, Kamis (20/12).
"Yang ada adalah konflik kepentingan, klan dan suku, sama sekali tidak berlatar belakang agama," kata Alto.
Pria kelahiran Maluku yang selama 17 tahun hidup di tengah konflik Timur Tengah ini mengatakan, Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) ke Kota Mosul Irak masuk dengan berkedok partai politik yang menjanjikan perbaikan-perbaikan melalui pemerintahan.
"ISIS masuk ke Mosul tanpa ada perlawanan berarti, hingga akhirnya dia menunjukkan muka sesungguhnya," ujar Alto.
Alto mengartikan, gerakan-gerakan radikal masuk ketika instabilitas politik dan keamanan dalam negeri bergejolak. Ia memberi contoh, gerakan DI-TII yang dulu sempat melakukan pemberontakan di Indonesia.
"Oleh sebabnya pertahanan dan stabilitas politik dalam negeri harus dijaga, kalau tidak mau anasir-anasir itu masuk," pungkasnya.
Dalam peluncuran buku tersebut, hadir para pembicara seperti anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon, pengamat Timur Tengah Alto Labetubun, Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK PWI) Ilham Bintang, dan novelis Ahmad Fuadi. Teguh Santosa sebagai pengarang buku juga turut hadir sebagai pembicara.
Wartawan JPNN, Frederich menjadi pengatur ritme diskusi dengan bertindak sebagai moderator.
[lov]