Langkah ini dipuji oleh para konservasionis sebagai langkah penting dalam perang untuk melindungi spesies yang terancam punah seperti gajah Afrika.
China sendiri sebelumnya diketahui salah satu pasar terbesar di dunia untuk gading Afrika. Namun pada tahun lalu, China mengumumkan bahwa mereka akan melarang semua perdagangan dalam negeri dan pengolahan pada akhir tahun 2017.
Langkah tersebut dilakukan setelah tekanan bahwa permintaan gading yang luas yang dilihat sebagai simbol status oleh beberapa negara. Hal ini memancing perburuan gajah di negara-negara seperti Kenya dan Tanzania.
"Beberapa dekade dari sekarang, kita dapat menunjukkan kembali ini sebagai salah satu hari terpenting dalam sejarah konservasi gajah," kata Ginette Hemley, wakil presiden senior untuk konservasi satwa liar di World Wildlife Fund (WWF).
"China telah menindaklanjuti janji besar yang dibuatnya kepada dunia, menawarkan harapan untuk masa depan gajah," tambahnya.
Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES), yang mulai berlaku pada tahun 1975, melarang perdagangan gading internasional pada tahun 1989. Namun, China terus membiarkan penjualan gading di dalam negeri.
Pada tahun 2008, CITES, kesepakatan PBB yang melarang perdagangan spesies yang terancam punah, memungkinkan penjualan satu kali ke China dari 70 ton stok gading terdaftar. Demikian seperti dimuat
Aljazeera.
[mel]
BERITA TERKAIT: