Badan intelijen AS bahkan menyimpulkan dalam sebuah laporan bulan Januari bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan upaya untuk mengganggu pemilihan 2016.
Campur tangan yang maksud mencakup hacking atau peretasan ke email Partai Demokrat dan membocorkannya, dengan tujuan membantu Donald Trump menduduki kursi nomor satu di negeri Paman Sam tersebut.
Menaggapi tudingan semacam itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membantah keras.
"Saya percaya bahwa politisi yang merusak sistem politik Amerika Serikat mencoba untuk berpura-pura bahwa seseorang mengendalikan Amerika dari luar," tegas Lavrov dalam pernyataanya usai menggelar pertemuan dengan Trump di Gedung Putih (Rabu, 10/5).
Trump sendiri sebelumnya kerap menolak tudingan kolusi dengan Rusia tersebut.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: