Perdebatan internal tersebut menunjukkan adanya perpecahan mendalam dalam pemerintahan Trump, soal apakah akan membuang pakta tersebut, yang dibuat pada tahun 2015 ketika hampir 200 negara setuju untuk mengekang emisi gas rumah kaca mereka untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya, atau justru mempertahankannya.
Dikabarkan
The Guardian, Trump sendiri diketahui telah berjanji untuk membatalkan kesepakatan tersebut selama kampanye pemilihan presiden tahun lalu.
Ia mengatakan akan ada keputusan besar mengenai kesepakatan menjelang pertemuan negara-negara G7 akhir bulan ini di Sisilia. Presiden dilaporkan condong ke arah keluar dari kesepakatan tersebut, meskipun ia masih dapat memutuskan untuk menurunkan keterlibatan Amerika daripada mengakhiri sepenuhnya.
Faksi yang berbeda di internal Trump telah bentrok mengenai apakah AS harus mencabutnya. Steve Bannon, ahli strategi utama Trump, lebih menyukai penarikan diri, seperti juga Scott Pruitt, administrator EPA, yang menyebutnya sebagai "kesepakatan bisnis yang buruk untuk negara ini".
Sementara itu Rick Perry, sekretaris energi, mengatakan bulan lalu "Kita mungkin perlu menegosiasikan kembali" kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Rex Tillerson, sekretaris negara, dan penasihat Trump Ivanka Trump dan Jared Kushner, dipahami untuk mendukung sisa kesepakatan.
[mel]
BERITA TERKAIT: